Indonesia Butuh Leader Pariwisata yang Bisa Berkomunikasi Dengan Semua Sektor
Inapos.id, Pacitan – Pemerintah dalam hal ini, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, berkomitmen Indonesia untuk pariwisata yang berkelanjutan dalam forum ASEAN Tourism Minister (ATM) Retreat di Melaka. Indonesia menekankan pentingnya keberlanjutan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal, serta penerapan prinsip Blue, Green, Circular Economy (BGCE). Komitmen ini selaras dengan prioritas nasional dalam RPJPN dan RPJMN.
Namun menanggapi kondisi pariwisata Indonesia saat ini, Pakar Budaya dan Wisata, Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd., menyatakan tugas pemerintah sangat berat.
Agoes mengatakan bahwa dibutuhkan sosok yang bisa melakukan manajemen kepemimpinan yang bisa mengkomunikasikan pariwisata ke semua leading sektor. Seperti, lingkungan hidup, sektor pertambangan, BUMN, Kementerian Dalam Negeri untuk perizinan, hingga Kementerian Kebudayaan.
”Sosok Menteri Pariwisata itu harus mampu mempromosikan budaya dan alam Indonesia ke luar negeri, kemampuan mengkombinasikan antara budaya dengan alam. Walaupun dia memiliki deputi, tapi sosok menteri yang mengkombinasikan, mengkolaborasikan semuanya. Harapannya, Menteri Parawisata saat ini bisa melakukan itu semua,” kata Agoes, melalui sambungan seluler, Pacitan, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025).
Dirinya berharap adanya gebrakan dari Kementerian Pariwisata untuk menciptakan sektor pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.
”Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat memperkuat citranya sebagai destinasi wisata unggulan dunia yang tidak hanya indah secara alamiah, tetapi juga kaya nilai, ramah, dan berdaya,” ulasnya.
Agoes mengakui, pariwisata Indonesia pada 2025 menunjukkan tren pemulihan dan pertumbuhan yang menjanjikan dibanding saat masa pandemi. Namun, lanjutnya, pariwisata Indonesia belum sepenuhnya bebas dari masalah.
”Ada beberapa hal yang harus diperkuat. Kemenpar harus fokus ke keberlanjutan dan wisata berkualitas, bukan hanya kuantitas. Juga perlu adanya perbaikan infrastruktur penunjang di daerah-daerah wisata, seperti transportasi, akses, fasilitas. Digitalisasi dan pemanfaatan teknologi, juga perlu untuk meningkatkan pengalaman wisatawan. Semoga Menpar bisa mendorong semua ini,” tandasnya. (er/*)
