Anggaran Rp171 Juta? Tugu Perjuangan Jatiseeng Jadi Sorotan Publik, Ini Penjelasan Dewan
Anggaran Rp171 Juta? Tugu Perjuangan Jatiseeng Jadi Sorotan Publik, Ini Penjelasan Dewan
Inapos.id, Kab. Cirebon – Pembangunan Tugu Perjuangan di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, menuai sorotan masyarakat. Proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp171.481.800 itu dinilai tidak sebanding dengan hasil pekerjaan di lapangan yang disebut hanya meliputi renovasi pagar, pengecatan ulang, serta penggantian lampu di area tugu.
Isu tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di grup Facebook Jatiseeng Membangun On The News. Warganet mempertanyakan rasionalitas anggaran yang dinilai cukup besar untuk lingkup pekerjaan yang relatif terbatas.
Berdasarkan Informasi yamg didapat Tim Media Inapos.id, Pembangunan Tugu Perjuangan tersebut merupakan pokir salah satu anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Dapil 6.
Anggota DPRD Kabupaten Cirebon Dapil 6, Mad Soleh, membenarkan bahwa pembangunan Tugu Perjuangan Jatiseeng merupakan Pokir miliknya. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan pekerjaan harus menyesuaikan dengan gambar perencanaan yang telah disepakati.
Menurut Mad Soleh, awalnya terdapat usulan untuk menggeser posisi tugu. Namun hal tersebut tidak dilakukan karena dikhawatirkan menghilangkan nilai sejarah dan berpotensi mempersempit akses wilayah di sisi barat.
“Kalau sampai digeser, nilai sejarahnya bisa hilang. Selain itu, pagar desa di wilayah barat sudah maju sekitar 1,2 meter, jangan sampai malah menyempit,” ujarnya.
Baca Juga : Anggaran Rp171 Juta Dipertanyakan, Warga Nilai Pembangunan Tugu Perjuangan Jatiseeng Tak Transparan
Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan tidak hanya sebatas pengecatan dan pagar, tetapi juga pelapisan struktur tugu menggunakan PVC.
“Tugu juga dilapis PVC di sekelilingnya. PVC yang tebal bukan PVC plafon,” katanya.
Terkait besaran anggaran, Mad Soleh menyebut bahwa nilai Pokir yang ia ajukan berada di kisaran Rp171 juta. Sementara total anggaran yang tercantum kemungkinan sudah termasuk pajak serta jasa konsultan.
Ia menegaskan terbuka terhadap pengawasan publik dan siap duduk bersama masyarakat maupun pihak terkait untuk mengevaluasi jika masih terdapat kekurangan dalam pembangunan tersebut.
“Kalau memang ada yang kurang, ayo kita duduk bareng, dikawal bersama. Dari awal juga ini dibahas di musrenbang dan melibatkan tokoh masyarakat,” tutur Mad Saleh.
Berita sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial Facebook setelah akun Arie Nur Aeni mengunggah foto tugu yang telah selesai direnovasi di grup “Jatiseeng Membangun on The News”.
Dalam unggahannya, Arie menulis, “Maaf numpang tanya (dengan nada sopan), proyek tugu ini kok hasilnya seperti ini saja? Dengan anggaran sekitar Rp170 juta saya kira akan terlihat lebih bagus. Ternyata hanya tugu lama dilapisi bahan PVC board dan diberi lampu di atasnya. Maaf, kalau mau protes ke mana ya?”
Unggahan tersebut dalam waktu sembilan jam mendapat perhatian luas, dengan 331 tanda suka, 312 komentar, dan 10 kali dibagikan.
Dalam kolom komentar, Arie kembali menegaskan kritiknya. “Maaf, saya juga orang asli Jatiseeng. Kalau anggarannya berasal dari pajak atau keringat rakyat, harus digunakan secara amanah,” tulisnya.
Komentar itu dibalas oleh akun Yanti Surya yang menilai perlu adanya pemeriksaan. “Berarti yang perlu diaudit itu yang mana ya?” tulisnya.
Akun Bakry Brandel turut menanggapi, “Benar soal anggarannya, tapi tidak tahu habis berapa. Yang penting ada uang sakunya,” tulisnya.
Sementara itu, akun Deddy Madjmoe menyebut, “Yang harus diaudit itu proyek ini karena dikerjakan oleh DLH.”
Yanti Surya kemudian membalas, “Mungkin kepala desa, Sumarno Mohammad Tohir, yang perlu diaudit.”
Pernyataan tersebut dibalas kembali oleh Deddy Madjmoe, “Itu tidak nyambung.”
Karena namanya disebut, Kuwu Desa Jatiseeng, Sumarno Mohammad Tohir, melalui akun Facebook pribadinya memberikan respons dengan nada sindiran. “Ah itu mah, uangnya sudah habis dipakai piknik, makan-makan, beli durian, dan pencitraan,” tulisnya.
Komentar lain juga menunjukkan kekecewaan warga. Akun Ayu TriAndani menuliskan, “Ekspektasi saya, di atas tugu akan dibuat seperti Monas berlapis emas. Soalnya dananya Rp170 juta. Uang segitu cukup buat bangun rumah. Ini cuma ditambah taman sedikit, tugu dirapikan, dikasih lampu remang-remang. Masa Rp170 juta?”
Akun Atik Herlina menambahkan, “Setiap lewat pasti lihat papan anggaran Rp171.481.000. Rasanya tidak masuk akal. Ini bagaimana?”
Komentar bernada satir juga muncul dari akun 0zan Arista, “Yang mahal mungkin lampunya. Cahaya ilahi.”
Sementara akun Chiko Trakindo mengaku memiliki pertanyaan serupa. “Kemarin saya lewat situ. Setelah lihat sudah jadi, saya juga bertanya-tanya, masa seperti ini saja anggarannya besar sekali, sudah seperti harga satu unit rumah sederhana.”
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi
