Rabu, April 29, 2026

Ayunda Putri Maulyda didampingi Kakek dan Pamannya.
DaerahPendidikanSosial

Kisah Haru Yunda, Siswi Yatim Piatu di Cirebon Tetap Semangat Sekolah dan Raih Ranking 4

Kisah Haru Yunda, Siswi Yatim Piatu di Cirebon Tetap Semangat Sekolah dan Raih Ranking 4

INAPOS, CIREBON – Di tengah keterbatasan hidup, semangat Ayunda Putri Mauldya, siswi kelas VII SMPN 2 Sumber, Kabupaten Cirebon, patut menjadi inspirasi. Meski telah ditinggal kedua orang tuanya, ia tetap berjuang melanjutkan pendidikan.

Yunda kini tinggal bersama kakaknya di Blok Karang Bawang, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber. Kehidupan sehari-hari mereka dijalani dengan sederhana, mengandalkan penghasilan sang kakak.

“kelas 7 di SMPN 2 Sumber,” ujarnya singkat saat ditanya mengenai pendidikannya saat ini. Rabu (29/4/2026)

Yunda mengaku, sejak orang tuanya meninggal, hidupnya berubah. Sang ibu meninggal pada 2014, sementara ayahnya baru berpulang tahun lalu.

“Kalau mama itu dari 2014, kalau ayah baru tahun kemarin,” katanya.

Untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah, Yunda mengandalkan kakaknya. Dalam sehari, ia biasanya menerima uang sekitar Rp35.000.

“Biasanya, ya paling-paling banyak Rp35.000 sehari. Rp20.000 buat di sekolah, sisanya buat di rumah,” ungkapnya.

Meski hidup serba terbatas, Yunda tetap berusaha tegar. Ia mengaku sering merasa sedih melihat teman-temannya masih memiliki orang tua.

“Ya, sedih aja. Karena semua orang kan masih ada orang tuanya. Sedangkan aku nggak ada,” tuturnya.

Rasa minder kerap muncul, namun ia mencoba mengikhlaskan keadaan.

“Ya, kadang ikhlas aja sih. Kalau ngelihat tuh, ya gitu lah. Suka sedih juga,” katanya.

Dalam keseharian, Yunda tidak banyak bercerita tentang kondisi keluarganya, bahkan kepada kakaknya.

“Jarang sih kalau cerita tentang keluarga, paling cerita soal sekolah,” ucapnya.

Di sekolah, Yunda aktif mengikuti kegiatan PMR. Secara akademik, ia juga menunjukkan prestasi yang baik. Saat di SD, ia pernah meraih peringkat 7, dan kini berhasil naik menjadi peringkat 4 di SMP.

“Paling suka pelajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Cita-cita menjadi Guru,” katanya.

Untuk melanjutkan pendidikan, Yunda berharap bisa masuk ke SMAN 1 Sumber.

“Rencananya setelah lulus ingin masuk SMAN 1 Sumber,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Sumber, Kemas Muhamad Saleh, mengatakan pihak sekolah akan berupaya maksimal membantu Ayunda agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.

“Saya selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sumber akan sekuat tenaga, karena tahun ini Ayunda sudah masuk dalam daftar PIP. Itu sebagai salah satu alternatif untuk bisa mengatasi permasalahan,” ujarnya.

Saleh menegaskan, sekolah tidak hanya fokus pada bantuan finansial, tetapi juga memastikan masa depan Ayunda tetap terarah.

“Anak ini tetap dikawal masa depannya. Beliau ingin melanjutkan sekolah di SMA, sehingga dengan program wajib belajar, jangan sampai anak putus sekolah,” katanya.

Menurut Saleh, sinergi antara sekolah, pemerintah, dan media sangat penting dalam mengatasi persoalan pendidikan, terutama bagi siswa dengan kondisi ekonomi sulit.

“Ini adalah program yang harus kita sukseskan bersama, bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon,” tegasnya.

Saleh juga menyebut, saat ini jumlah siswa di SMPN 2 Sumber mencapai sekitar 906 orang dengan 27 rombongan belajar.

Dari pihak keluarga, paman Yunda, Iwan, mengaku sering merasa miris melihat kondisi keponakannya tersebut.

“Sering saya tanya, kenapa melamun? Sudah makan belum? Saya melihatnya miris kalau lihat dia melamun,” ujarnya.

Iwan juga kerap membantu Ayunda, mulai dari mengantar ke sekolah hingga membelikan perlengkapan belajar.

“Saya juga kadang membelikan buku tulis atau buku pelajaran lainnya,” ungkapnya.

Kisah Yunda menjadi potret nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Dukungan berbagai pihak diharapkan mampu menjaga semangatnya agar terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Reporter : Didin

Editor : Tim Redaksi

 

60 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *