KH Miftah Desak Pemkot Cirebon Serius Tangani Pencemaran Limbah TPA Kopiluhur
INAPOS, KOTA CIREBON.- Dugaan pencemaran air sumur warga akibat limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopiluhur, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, terus menjadi sorotan.
Tidak hanya dari kalangan legislatif, tokoh agama setempat, KH Miftah Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Benda Kerep, juga angkat bicara dan menyuarakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami masyarakat.
KH Miftah Faqih menyampaikan keprihatinan mendalam atas persoalan pencemaran yang terjadi di lingkungan Argasunya, terutama di wilayah Kampung Kalilunyu dan Sumurwuni. Ia menilai masalah ini sudah berlangsung cukup lama dan belum mendapatkan penanganan maksimal dari pemerintah.
“Saya sangat prihatin dengan adanya TPA di Argasunya. TPA tersebut berdampak pada air bersih di sekitarnya. Warga sudah lama merasakan dampaknya dan sangat kasihan,” ujar KH Miftah pada Jum’at (8/7/25).
Ia pun mendesak Pemerintah Kota Cirebon agar segera melakukan perbaikan pada sistem pengelolaan limbah di TPA Kopiluhur, guna mencegah meluasnya dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat.
“Ini harus segera ditangani agar tidak mencemari air sumur warga. Kalau tidak cepat diatasi, akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Tak hanya kepada eksekutif, KH Miftah juga menegur keras DPRD Kota Cirebon agar tidak bersikap pasif. Ia meminta para wakil rakyat menunjukkan keberpihakan nyata terhadap masyarakat, bukan hanya saat momen pemilu.
“Jangan cuma mengaku wakil rakyat saat pemilihan saja. Setelah duduk di kursi, rakyat dibiarkan. Harus benar-benar perhatikan masyarakat Argasunya,” kata KH Miftah dalam bahasa lokal yang lugas.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak alergi terhadap kritik dari masyarakat.
“Masyarakat boleh mengkritik, asal tidak nyinyir. Tapi pemerintah juga jangan anti kritik. Kalau tidak mau diingatkan dan tidak mau mengingatkan, dalam istilah pesantren itu orang seperti itu disebut Rembetuk,” sindirnya.
Sementara itu, dari pihak pengelola, Kasubag TU UPT TPA Kopiluhur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, Jawahir, mengakui adanya keluhan warga terkait kualitas air sumur.
“Kami telah melakukan sejumlah upaya, seperti membuat sumur bor di beberapa titik, di antaranya di wilayah Palinggihan RT 1 dan Sumurwuni RW 1,” jelas Jawahir.
Ia mengungkapkan bahwa kolam penampungan limbah (licit) yang tidak mampu menampung air saat musim hujan menjadi salah satu penyebab bau dan kekeruhan air sumur warga. Beberapa kolam juga telah tertutup sampah dan tidak berfungsi optimal.
“Awalnya ada tujuh kolam, tapi sebagian sudah tertutup sampah. Saat hujan, air limbah bisa meluber atau merembes ke pemukiman,” tambahnya.
Ditambahkan dia, DLH Kota Cirebon saat ini sedang melakukan renovasi dan berencana menambah kolam penampungan licit baru, serta telah menyediakan sumur bor tambahan melalui kerja sama dengan pihak luar seperti Polres Cirebon Kota dan pihak dari Bandung.
Reporter: Kris
Editor: Redaksi Inapos
