Beranda Ragam Waktunya, Bangsawan dan Ulama Bersatu Jaga Alam

Waktunya, Bangsawan dan Ulama Bersatu Jaga Alam

0
22
Ilustrasi Bangsawan dan Ulama dengan alam yang asri Insert = M.Heri

Jadikan Kearifan Budaya dan Ajaran Agama sebagai Tameng Pelestarian Lingkungan

INAPOS, KUNINGAN,- Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan, para bangsawan, tokoh adat, dan ulama di seluruh Indonesia diminta untuk bersatu mengambil peran strategis dalam menjaga kelestarian alam negeri ini.

Seruan moral ini disampaikan sebagai bentuk keprihatinan atas krisis air, alih fungsi hutan, dan bencana ekologi yang kian sering terjadi dan paling berdampak pada rakyat kecil.

“Jika penguasa bicara kebijakan dan pengusaha bicara modal, maka bangsawan dan ulama harus bicara nurani. Bicara tentang keseimbangan, tentang warisan, dan tentang tanggung jawab kepada Tuhan dan anak cucu,” demikian disampaikan pemerharti lingkungan, M.Heri kepada inapos Kamis (3/9/2026).

*MENGAPA BANGSAWAN DAN ULAMA?*

Menurut Heri, Bangsawan dan tokoh adat memiliki legitimasi sejarah. Suara mereka mengingatkan masyarakat pada kearifan lokal: larangan menebang di mata air, menghormati gunung dan sungai, serta upacara sedekah bumi. Ulama memiliki kekuatan moral umat. Ajaran agama menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Merusak bumi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah _khalifah fil ardh_. Di tengah tarik menarik kepentingan ekonomi, figur bangsawan dan ulama dapat menjadi jembatan dialog yang adil antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” tutur pria yang masih kerabat Keraton Kanoman ini.

*AJAKAN AKSI KONKRET*

Heri berharap para bangsawan dan ulama diharapkan dapat bersuara bersama di mimbar, keraton, dan ruang publik terkait bahaya kerusakan alam.

“Diharap mereka menghidupkan kembali nilai-nilai luhur: _hifzhul bi’ah_ dalam Islam dan _tri hita karana_ dalam budaya. Mereka bisa menjadi teladan melalui gerakan pesantren lestari, masjid hijau, dan pengelolaan lahan adat yang berkelanjutan. Mengawal kebijakan agar pembangunan tidak mengorbankan daya dukung lingkungan dan hak-hak masyarakat. Merusak alam sama dengan mengkhianati sejarah leluhur dan mengkhianati amanah agama. Ini adalah bentuk kedzaliman kepada generasi yang akan datang,”* tutupnya.

Seruan ini diharapkan menjadi awal gerakan *“Moral Ekologi Kebangsaan”* – gerakan yang menyatukan kekuatan budaya dan agama untuk menjaga Indonesia tetap lestari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini