Selasa, April 21, 2026

Rudi Ardianto sedang memberi pakan ayam.
Nasional

Dari Negeri Ginseng ke Kandang Broiler: Kisah Rudi Ardianto Menata Masa Depan Tanpa Harus Kembali Jadi PMI

Dari Negeri Ginseng ke Kandang Broiler: Kisah Rudi Ardianto Menata Masa Depan Tanpa Harus Kembali Jadi PMI

Inapos.id, Kab. Cirebon — Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih kerap dipandang sebagai jalan cepat untuk meningkatkan taraf hidup. Namun tidak sedikit yang justru terjebak pada gaya hidup konsumtif. Ketika tabungan habis tanpa aset, pilihan kembali bekerja ke luar negeri pun kembali diambil. Di tengah realitas itu, kisah Rudi Ardianto hadir sebagai pengecualian yang memberi harapan.

Rudi, mantan PMI di Korea Selatan sekaligus santri Pondok Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon, memilih jalan berbeda. Alih-alih menghabiskan hasil jerih payahnya untuk berfoya-foya, ia memutuskan pulang kampung dan menanamkan modal pada sektor riil. Sejak 2018, ia merintis usaha peternakan ayam broiler di Desa Gagasari, wilayah yang berbatasan langsung dengan lingkungan Ponpes Gedongan.

Rudi berangkat ke Korea Selatan pada 2014 dan bekerja selama empat tahun. Sekembalinya ke tanah air, ia langsung memulai usaha dari skala kecil. Kini, ia mengelola dua kandang ayam broiler dengan kapasitas sekitar 10 ribu ekor per kandang dan bermitra dengan perusahaan Japfa.

“Dalam satu siklus panen, dua kandang ini bisa menghasilkan hingga 40 ribu ekor ayam. Kalau dihitung, omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp40 juta dalam sekali panen,” ujar Rudi, yang juga merupakan mantan santri Ponpes Buntet.

Perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Rudi mengakui adanya berbagai tantangan teknis dan fluktuasi usaha yang kerap menguji ketahanan mental dan finansial.

“Usaha ini sudah beberapa tahun saya jalani. Naik turunnya luar biasa, dan beberapa kali juga sempat mengalami kendala. Tapi alhamdulillah, sekarang bisa dikatakan sudah mulai membuahkan hasil. Dari awalnya saya hanya ternak 200 ekor, hingga alhamdulillah sudah 40 ribu ekor sekarang,” katanya.

Di balik capaian itu, Rudi masih menyimpan pertanyaan tentang keberpihakan dan dukungan nyata pemerintah terhadap peternak mandiri. Meski beberapa kali dijanjikan program bantuan, realisasinya belum pernah ia rasakan.

“Kalau ada program pemerintah ya syukur, kalau tidak ya sudah saja. Lagi pula sekarang alhamdulillah usaha ternak saya berjalan. Meskipun sudah beberapa kali dijanjikan program pemerintah,” ucapnya.

Kini, Rudi memilih fokus mengembangkan usahanya. Baginya, keberhasilan bukan sekadar soal besarnya omzet, tetapi kemampuan bertahan dan mandiri di kampung halaman tanpa harus kembali mengadu nasib ke negeri orang. Kisah Rudi menjadi bukti bahwa PMI juga bisa pulang sebagai pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Reporter : Didin

Editor : Tim Redaksi

51 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *