Sabtu, Mei 2, 2026

Tradisi rajaban di Keraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Kris
DaerahHeadlineSeni dan Budaya

Keraton Kasepuhan Cirebon Gelar Tradisi Rajaban di Bangsal Pringgadani, Lestarikan Spirit Isra Mi’raj

INAPOS, KOTA CIREBON.- Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi Rajaban dalam rangka memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tradisi sakral yang sarat makna spiritual tersebut berlangsung khidmat di Bangsal Pringgadani Keraton Kasepuhan, Jumat (16/1/26).

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menjelaskan bahwa peringatan Rajaban merupakan momentum penting untuk mengenang perjalanan spiritual Rasulullah SAW pada 27 Rajab, yang menjadi tonggak diwajibkannya salat lima waktu bagi umat Islam.

“Hari ini kita bersama-sama memperingati bulan Rajab atau Isra Mi’raj. Ini adalah sejarah perjalanan spiritual Baginda Rasul Nabi Muhammad SAW. Karena itu, seluruh keluarga keraton, para wargi, dan para pinisepuh hadir untuk memperingatinya bersama-sama,” ujar Patih Sepuh.

Ia menuturkan, peringatan Rajaban tahun ini dilaksanakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, tradisi tersebut digelar di Langgar Alit Keraton.

Namun, karena jumlah peserta yang terus meningkat setiap tahun, kegiatan dipindahkan ke Bangsal Pringgadani agar seluruh hadirin dapat mengikuti rangkaian acara dengan lebih nyaman.

“Biasanya di Langgar Alit, tapi karena yang hadir semakin banyak, maka tahun ini kita laksanakan di Bangsal Pringgadani supaya semua bisa mengikuti dengan baik,” jelasnya.

Rangkaian acara Rajaban diisi dengan ceramah keagamaan yang mengupas makna Isra Mi’raj, dilanjutkan dengan doa bersama sebagai penutup. Dalam pesannya, Patih Sepuh mengajak umat Islam untuk tidak melupakan amanah besar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah menegakkan salat lima waktu.

“Sebagai umat muslim, kita jangan sampai melupakan Isra Mi’raj, karena di situlah perintah salat lima waktu diturunkan sebagai kewajiban utama,” tegasnya.

Tradisi Rajaban di Keraton Kasepuhan juga identik dengan penyajian nasi bugana, lengkap dengan lauk pauk sederhana seperti kentang, tahu, tempe, serta parutan kelapa. Sajian tersebut memiliki makna filosofis sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

“Maknanya sebetulnya adalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT, dengan menyajikan hidangan sebagai bentuk kebersamaan dan doa,” pungkas Patih Sepuh.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

60 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *