Beranda Sejarah Saat Hutan Rusak Sebabkan Banjir Dahsyat Jawa 1861

Saat Hutan Rusak Sebabkan Banjir Dahsyat Jawa 1861

0
13
Lukisan Raden Saleh yang berjudul A Flood on Java (1865-1876).

INAPOS, JAKARTA,- Penjajah telah meninggalkan luka menganga bagi bangsa Indonesia dengan Tanam Paksanya. Bukan hanya banyaknya kematian akibat penderitaan dan wabah penyakit, melainkan yang lebih besar dari itu.

Hal yang lebih besar itu adalah banjir dahsyat yang melanda Banyumas, Kedu dan beberapa wilayah Jawa Tengah pada 1962.

Wawasan ini dapat dilihat pada Raden Saleh yang begitu epik telah memberikan wawasan tentang banjir dahsyat tersebut.

Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa banyaknya kematian akibat sistem cultuurstelsel berdampak pada rusaknya hutan dan bencana alam yang dahsyat dan memakan banyak korban jiwa.

Ditulis dalam artikel Historiek yang berjudul Cultuurstelsel in Nederlands-Indië (vanaf 1830), terbitan 30 Agustus 2024. Menyebutkan “Dalam upaya mengoptimalkan pendapatan dari koloni, Belanda memperkenalkan Sistem Cultuurstelsel pada tahun 1830. Sejak diterapkannya cultuurstelsel, para petani di Hindia Belanda , khususnya di Jawa, diwajibkan menanam seperlima lahan mereka dengan produk-produk yang telah ditentukan,” tulis Historiek.

Matthias van Rossum, seorang profesor sejarah dari Radboud University, menyebut jika petani dipaksa untuk menghasilkan kopi, teh, dan produk pertanian komersial lainnya di seperlima lahan dan menyerahkannya kepada pemerintah kolonial.

Hal ini untuk memenuhi permintaan ekspor yang sangat besar, sebagian besar hutan perawan dan hutan hujan ditebang untuk membuka lahan bagi perkebunan monokultur.

Budidaya intensif tanaman ekspor menguras kesuburan tanah dengan cepat. Akibatnya, area hutan baru sering kali ditebang.Hilangnya tutupan hutan secara langsung menyebabkan erosi tanah yang parah.

Dikutip dari Nationalgeographic.co.id, Aiko Kurosawa, dalam bukunya Mobilisasi dan Kontrol (1993) menuliskan bahwa pembabatan ribuan pohon bukan hanya ditujukan untuk pembukaan lahan persawahan, melainkan juga untuk eksploitasi kayu.

“Hal ini mengakibatkan terganggunya ekosistem dan memicu timbulnya bencana banjir di area sekitarnya,” imbuh Aiko. Persoalan inilah yang menjadi petaka ketika hujan intensitas tinggi turun terus menerus.

Memasuki pertengahan Februari 1861, langit di atas Jawa Tengah seolah tumpah. Hujan deras mengguyur tanpa henti berhari-hari.

Sejak Februari 1861 hujan dengan intensitas sangat tinggi mulai mengguyur kawasan Banyumas, Kedu, dan Bagelen tanpa henti. Lantas, air terus menerus naik dan kerusakan hutan tak mampu meresap air secara optimal.

Puncaknya terjadi pada tanggal 21 hingga 23 Februari 1861, tatkala air bah mulai naik meninggi menerjang permukiman warga dan pusat-pusat kota di Karesidenan Banyumas.

Air hujan yang tak tertampung meluncur deras ke bawah, mengikis ribuan ton tanah gembur dan membawa gelondongan kayu besar. Kali Serayu, Kali Bogowonto, dan sungainya berubah menjadi air raksasa yang mengamuk.

Seperti yang dikabarkan dalam koran De Java-Bode hingga De Locomotief yang terbit sepanjang Februari hingga Maret 1961, memberitakan tentang ketinggian air mencapai 3,5 meter (setinggi atap rumah penduduk), mengisolasi wilayah pedesaan dan kota.

Lantaran terendamnya daratan, warga yang panik memanjat pohon-pohon tinggi atau berebut menggapai bongkahan atap rumah yang terapung-apung di tengah arus deras yang membawa bangkai ternakhingga puing-puing bangunan.

Ribuan rumah kayu warga hanyut atau roboh. Akses jalan darat dan jembatan penghubung antar-wilayah Banyumas, Purwokerto, hingga Kedu menjadi lumpuh total.

Ketika matahari terbit, pemandangan yang terlihat sangat memilukan. Wilayah Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Bagelen berubah menjadi hamparan air lumpur sejauh mata memandang.

Ribuan hektar sawah dan perkebunan siap panen rusak parah (puso). Banyak hewan ternak milik warga mati terseret arus air bah.Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi.

Pasca-banjir timbul kelangkaan bahan pangan serta ancaman wabah penyakit sanitasi.

Risalah laporan Menteri Jajahan (Minister van Koloniën) I.D. Fransen van de Putte (1864) melaporkan sebanyak 1.558 orang meninggal dunia (termasuk 819 jiwa dewasa).

Laporan dari Banyumas memperkirakan sekitar 300 orang meninggal dunia, serta ratusan korban jiwa dari wilayah Kedu, Surakarta, dan Semarang, sehingga total akumulatifnya menembus angka ribuan jiwa.

Catatan dalam Memorie van Overgave memicu kesadaran pemerintah kolonial Belanda untuk mulai memperbaiki rekayasa sipil (Waterstaat), memperkuat tanggul sungai, dan melahirkan regulasi perlindungan hutan (Stermreglement) di daerah hulu guna mencegah bencana serupa.

Watersnood 1861 menjadi saksi bisu betapa mengerikannya dampak ketika eksploitasi alam yang berlebihan (Cultuurstelsel) berbenturan dengan keganasan cuaca ekstrem.

Setelahnya, kritik sastra yang diajukan Multatuli lewat Max Havelaar mendorong sejumlah desakan golongan humanis Belanda untuk menghentikan kebijakan cultuurstelsel.

Alhasil, penghapusan cultuurstelsel terjadi secara bertahap sejak 1860-an dan resmi berakhir pada tahun 1870.

Lantas, watersnood 1861 diperkirakan menjadi inspirasi lukisan monumental Raden Saleh yang berjudul A Flood on Java (1865-1876).

Sumber : Dikutip langsung dari Nationalgeograpich.co.id

Penulis dan editor : Cecep Supradin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini