INAPOS. CIREBON — Seleksi calon Direktur Perumda Air Minum Tirta Jati Kabupaten Cirebon mulai menuai sorotan. Dari tujuh orang yang mendaftar, lima dinyatakan lolos administrasi dan seluruhnya masih melanjutkan ke tahapan seleksi berikutnya.
Kondisi tersebut dinilai menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa efektif fungsi penyaringan yang dilakukan Panitia Seleksi (Pansel).
Sorotan itu disampaikan Eks Direktur LKBH Permahi DPC Cirebon Raya, Muhammad Rizky Firmansyah, SH. Ia mempertanyakan proses seleksi yang dinilainya belum menunjukkan penyaringan kandidat secara signifikan setelah tahap administrasi.
“Kenapa yang mendaftar tujuh, kemudian yang lolos administrasi lima, tetapi semuanya kembali diloloskan untuk mengikuti tahapan berikutnya? Pertanyaannya, fungsi penyaringan itu ada di mana?” ujar Rizky.
Menurut Rizky, seleksi Direksi BUMD semestinya tidak hanya menguji kelengkapan persyaratan administratif. Pansel harus mampu menemukan kandidat yang benar-benar memiliki kompetensi, pengalaman, integritas dan kemampuan memimpin perusahaan.
Ia menilai, dengan tersisanya lima kandidat, Pansel semestinya dapat melakukan pemetaan dan penyaringan lebih tajam melalui hasil uji kompetensi maupun rekam jejak peserta.
“Kalau memang kelima-limanya terbaik dan layak, tentu harus dijelaskan parameternya. Tetapi kalau ada proses penilaian, masyarakat juga berhak tahu bagaimana proses tersebut menghasilkan kandidat terbaik,” katanya.
Rizky mengingatkan, posisi Direktur Perumda Tirta Jati bukan jabatan biasa. Direktur yang terpilih nantinya akan memimpin perusahaan yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat Kabupaten Cirebon.
Karena itu, ia menilai calon direktur harus memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan perusahaan, mulai dari cakupan layanan, kontinuitas pasokan, kualitas pelayanan, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW), efisiensi jaringan hingga kondisi keuangan perusahaan.
“Ini bukan memilih kepala bidang atau pejabat biasa. Ini memilih orang yang akan memimpin perusahaan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, proses seleksinya harus benar-benar serius,” tegasnya.
Menurut Rizky, kualitas proses seleksi menjadi penting karena keputusan yang dihasilkan tidak hanya berdampak pada internal perusahaan, tetapi juga terhadap pelayanan air minum kepada masyarakat.
Rizky juga mempertanyakan sejauh mana Pansel menjalankan fungsi utamanya sebagai penyaring kandidat.
Ia mengingatkan agar Pansel tidak hanya menjadi pelaksana tahapan administratif dan ujian, tetapi harus memastikan setiap proses benar-benar menghasilkan kandidat yang kompeten.
“Pansel harus bisa menjelaskan kepada publik, apa indikator penilaiannya, apa yang menjadi pembeda antarcalon, dan mengapa seseorang dinilai layak melaju ke tahap berikutnya,” ujarnya.
Menurutnya, apabila seluruh peserta yang lolos administrasi tetap dipertahankan tanpa penyaringan yang berarti, wajar apabila publik mempertanyakan substansi proses seleksi tersebut.
“Jangan sampai seleksi hanya menjadi rangkaian tahapan yang harus dilewati, tetapi tidak benar-benar menyaring. Kalau begitu, masyarakat bisa bertanya-tanya, sebenarnya proses ini mencari yang terbaik atau hanya menggugurkan tahapan?” katanya.
Sorotan Rizky tidak hanya ditujukan kepada Pansel. Ia juga meminta Kuasa Pemilik Modal (KPM), yakni Bupati Cirebon, memastikan proses pemilihan Direktur Perumda Tirta Jati berjalan transparan, akuntabel dan berbasis sistem merit.
“Bupati sebagai KPM harus berani memastikan proses ini transparan. Jangan sampai KPM kemudian bersembunyi di balik Pansel, sementara Pansel bersembunyi di balik tahapan seleksi,” tegasnya.
Menurut Rizky, keterbukaan diperlukan untuk mencegah munculnya spekulasi mengenai proses pemilihan calon direktur.
“Jangan ada topeng dalam proses ini. Kalau memang semuanya profesional, berbasis kompetensi dan tidak ada kepentingan lain, ya buka dan jelaskan kepada publik,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar proses tersebut tidak menimbulkan kesan adanya pihak yang saling melempar tanggung jawab ketika keputusan akhir telah ditetapkan.
“Jangan sampai masyarakat melihat ada sesuatu yang tidak dijelaskan. Kalau prosesnya memang bersih, profesional dan objektif, tidak ada alasan untuk takut menjelaskannya,” ujar Rizky.
Rizky menilai isu tarik-menarik kepentingan dalam pengisian jabatan BUMD perlu menjadi perhatian serius.
Menurutnya, Direktur Perumda Tirta Jati harus dipilih berdasarkan kapasitas profesional dan kemampuan membawa perusahaan berkembang dalam jangka panjang.
“Jangan memilih karena kedekatan. Jangan memilih karena kepentingan sesaat. Pilih orang yang memang mampu mengurus perusahaan, memperbaiki pelayanan, menekan kehilangan air, memperluas cakupan pelanggan dan membuat Tirta Jati menjadi perusahaan yang sehat,” katanya.
Rizky menegaskan, masyarakat Kabupaten Cirebon pada dasarnya tidak terlalu membutuhkan siapa saja yang masuk dalam daftar kandidat. Yang lebih penting, kata dia, adalah adanya jaminan bahwa kandidat yang terpilih benar-benar merupakan figur terbaik.
“Pertanyaan sederhananya, apakah kita sedang mencari orang yang terbaik untuk PDAM, atau sedang mencari orang yang sesuai dengan kepentingan tertentu? Itu yang harus dijawab oleh Pansel dan KPM,” pungkasnya.
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi








