Beranda Sejarah Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon Digelar, Tradisi Maulid Nabi Penuh Makna

Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon Digelar, Tradisi Maulid Nabi Penuh Makna

0
24
Prosesi panjang jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon. Kris

INAPOS, KOTA CIREBON.- Tradisi Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon kembali digelar pada Rabu (26/8/2026) malam. Prosesi yang menjadi puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah tersebut berlangsung khidmat dengan arak-arakan berbagai perangkat adat, pusaka, hingga sajian yang sarat makna simbolis.

Prosesi yang dikenal sebagai Pelal Ageng itu merupakan salah satu tradisi penting yang hingga kini terus dilestarikan Keraton Kasepuhan Cirebon. Rangkaian kegiatan sebelumnya telah diawali dengan berbagai tradisi, termasuk Siraman Panjang.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Goemilar Soeriadiningrat, mengatakan Panjang Jimat menjadi puncak rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Alhamdulillah malam hari ini, di tanggal 26, di malam Kamis, kami Keraton Kasepuhan Cirebon bisa mengadakan acara tradisi Panjang Jimat, yang intinya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Goemilar.

Menurutnya, iring-iringan Panjang Jimat terbagi dalam sejumlah bagian, mulai dari Panjang 1 hingga Panjang 7. Dalam prosesi tersebut juga terdapat meron atau dongdang dengan 38 piring pengiring yang sebelumnya telah menjalani proses pencucian.

Goemilar menjelaskan, berbagai benda yang dibawa dalam arak-arakan bukan sekadar perlengkapan upacara. Setiap perangkat memiliki simbol dan makna yang berkaitan dengan proses kelahiran manusia.

“Sebetulnya tadi iring-iringan itu bermakna kelahiran anak manusia. Jadi contoh, ada Kembang Goyang itu menandakan ari-ari, air pasatan itu seperti air ketuban, atau serbat itu seperti darah setelah melahirkan,” ujarnya.

Persiapan Lahir dan Batin

Sebelum prosesi arak-arakan dimulai, para abdi dalem dan perangkat Keraton Kasepuhan terlebih dahulu menjalani persiapan lahir dan batin.

Penata upacara melakukan Ngadu Batos dengan menghadap Sultan Sepuh atau pihak yang mewakili untuk menyampaikan maksud sekaligus meminta restu atas pelaksanaan rangkaian Panjang Jimat.

Suasana malam Maulid Nabi tersebut semakin khidmat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat, zikir, doa, pengkisahan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta tausiah. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak selepas Magrib hingga menjelang prosesi puncak.

Menjelang arak-arakan, Pangeran Komisi melakukan sungkem kepada Pangeran Patih sebagai penanda dimulainya prosesi.

Dalam rangkaian tersebut, Pangeran Patih menjalankan tata laku khusus dengan tidak berbicara selama prosesi. Sikap itu menjadi simbol keteguhan, keheningan batin, dan istikamah dalam menjalankan amanah adat.

Setelah itu, rombongan bergerak dengan barisan yang diawali Pangeran Patih, keluarga keraton, tokoh dan perangkat keraton, serta abdi dalem yang mendapat tugas khusus.

Di belakang rombongan tersebut terdapat pembawa pusaka dan atribut kebesaran keraton. Sejumlah benda yang diarak antara lain pusaka, bendera kebesaran, panji-panji, atribut adat, serta perlengkapan simbolis lainnya, termasuk Bendera Macan Ali.

Panjang Jimat Diarak Menuju Langgar Agung

Bagian utama arak-arakan kemudian diisi rombongan pembawa Panjang Jimat. Para abdi dalem membawa berbagai perlengkapan, seperti piring panjang atau Panjang Jimat, kendi, lodor, Nasi Jimat, tumpeng, serta sejumlah sajian dan perlengkapan upacara lainnya.

Seluruh benda tersebut disusun dan dibawa sesuai tata cara serta ketentuan adat yang berlaku.

Makna yang terkandung di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan prosesi adat, tetapi juga menjadi pengingat mengenai nilai keimanan, keteladanan, serta ajaran Nabi Muhammad SAW.

Setelah seluruh rombongan siap, arak-arakan bergerak dari kawasan bangsal keraton menuju Langgar Agung. Rombongan mempertahankan tata urutan selama perjalanan dan melewati kawasan keraton, termasuk Pintu Si Blawong.

Sesampainya di Langgar Agung, berbagai perangkat dan sajian Panjang Jimat ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji yang berisi riwayat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Pembacaan dilakukan secara bersama-sama dalam suasana khidmat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Rangkaian selanjutnya ditutup dengan doa bersama untuk memohon keberkahan, keselamatan, ketenteraman, serta petunjuk agar masyarakat senantiasa dapat meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Warisan Budaya dan Syiar Islam

Puncak Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon atau Pelal Ageng menjadi bagian penting dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan keraton.

Tradisi tersebut mempertemukan tata adat keraton, syiar Islam, penghormatan kepada Rasulullah SAW, sekaligus upaya mempertahankan warisan budaya Cirebon yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Melalui prosesi Panjang Jimat, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menerapkan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi yang digelar setiap momentum Maulid Nabi itu pun menjadi salah satu kekayaan budaya Cirebon yang terus dijaga keberlangsungannya di tengah perkembangan zaman.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini