INAPOS, BANDUNG – Cuaca ekstrem yang ditandai panas berkepanjangan dan suhu tinggi disebut turut berdampak terhadap meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di masyarakat.
Dokter Encep Sugiana mengatakan, kondisi cuaca saat ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit infeksi saluran pernapasan.
“Akibat cuaca ekstrem yang sangat luar biasa, panas berkepanjangan dan panas yang sangat tinggi, kasus penyakit infeksi saluran pernapasan semakin meningkat,” ujar dr. Encep kepada Inapos, Jum’at 18 September 2026.
Menurutnya, influenza A juga mulai banyak ditemukan di tengah masyarakat dan turut menjadi perhatian karena dapat menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Ia menyebut peningkatan kasus tidak hanya terjadi di satu daerah, tetapi menjadi persoalan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Karena itu, dr. Encep mengimbau masyarakat memperkuat daya tahan tubuh dengan menjaga pola makan, mencukupi kebutuhan protein dan vitamin, serta memastikan tubuh tidak mengalami dehidrasi.
“Makan yang teratur dengan protein yang tinggi dan vitamin yang memadai. Kemudian jangan sampai terjadi dehidrasi, sehingga kita banyak mengonsumsi air,” katanya.
Selain menjaga asupan makanan dan cairan, masyarakat juga dianjurkan tetap berolahraga secara teratur untuk menjaga kebugaran. Namun, aktivitas di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Olahraga, kata dia, dapat dilakukan pada pagi atau sore hari ketika paparan sinar matahari tidak terlalu menyengat.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan perlindungan seperti topi, kacamata, dan masker.
Penggunaan masker dinilai penting untuk membantu menyaring udara yang masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika kondisi udara kurang baik atau terdapat banyak debu.
“Kalau harus banyak di luar, upayakan pakai pelindung, terutama topi atau apa pun yang melindungi tubuh. Bisa juga memakai kacamata dan masker,” ujarnya.
Dr. Encep juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan. Jika mulai mengalami keluhan, masyarakat dianjurkan beristirahat cukup dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik atau Puskesmas.
Selain perlindungan terhadap diri sendiri, pencegahan penularan juga perlu dilakukan dengan mengurangi aktivitas di tempat-tempat yang terlalu padat atau berkerumun.
“Yang bisa dilakukan masyarakat adalah bagaimana mengurangi tempat-tempat kerumunan banyak orang supaya tidak terjadi penularan penyakit dari satu individu ke individu yang lain,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Penumpukan sampah harus dihindari karena selain mengganggu kesehatan, sampah yang menumpuk berpotensi memicu kebakaran yang kemudian dapat memperburuk kualitas udara dan menyebabkan gangguan pernapasan.
“Lingkungan kita juga harus bersih. Hindari penumpukan sampah yang bisa membahayakan. Kalau bisa setiap hari sampah itu dibuang, jangan ditumpuk,” pungkasnya.
Reporter: Ayi
Editor: Redaksi








