Beranda Parlemen Irma Suryani Soroti Dampak Karhutla, 283 Ribu Kasus ISPA Tercatat di 7...

Irma Suryani Soroti Dampak Karhutla, 283 Ribu Kasus ISPA Tercatat di 7 Provinsi

0
6
Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago. Foto: Mahendra/Karisma.

INAPOS, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengkhawatirkan terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Ia meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera memperkuat pendampingan dan pelayanan kesehatan bagi warga yang terdampak kabut asap.

Perhatian tersebut disampaikan Irma setelah melakukan kunjungan kerja reses ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia turut didampingi perwakilan Kemenkes untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak karhutla.

“Di Banjarmasin sendiri udara masih berasap, meskipun sudah sedikit mereda. Pada saat rapat dengan Pemda di sana, saya sudah menyampaikan kepada Kemenkes untuk segera membantu masyarakat yang terdampak karhutla parah,” kata Irma dalam keterangan persnya, Jumat (16/10/2026).

Selain Kalimantan Selatan, Irma juga menerima laporan mengenai kondisi karhutla di Kalimantan Tengah yang disebut mengalami dampak serius akibat asap pekat. Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, kondisi udara di sejumlah wilayah bahkan terlihat menguning akibat kepulan asap.

“Hari ini saya dilaporkan oleh masyarakat Kalimantan Tengah, udara di sana sudah sangat mengkhawatirkan. Udara sudah mulai tampak menguning dan pasti sangat berbahaya bagi masyarakat,” tuturnya.

Kondisi tersebut juga ramai dibagikan warga melalui media sosial. Masyarakat terdampak melaporkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari kesulitan bernapas hingga mata terasa perih akibat paparan asap.

Irma menegaskan, penanganan dampak karhutla tidak boleh hanya berfokus pada gangguan pernapasan, tetapi juga harus mencakup berbagai keluhan kesehatan lain yang dialami masyarakat.

“Masyarakat terdampak harus segera didampingi kesehatannya. Karena dampaknya bukan saja ISPA, tapi juga sakit mata dan penyakit lainnya,” jelasnya.

Berdasarkan data Kemenkes per 13 Oktober 2026 yang disampaikan dalam bahan keterangan tersebut, jumlah kumulatif kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan dampak karhutla mencapai 283.270 kasus. Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 219.559 kasus dialami penduduk berusia di atas lima tahun, sedangkan 63.711 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.

Kalimantan Selatan tercatat memiliki jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 74.636 kasus. Sementara itu, Sumatera Selatan berada di urutan berikutnya dengan 74.458 kasus.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan penanganan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Namun, data tersebut perlu dipahami sesuai cakupan dan metode pencatatan Kemenkes, termasuk keterkaitan kasus dengan paparan asap karhutla.

Selain peningkatan kasus ISPA, karhutla juga berdampak pada kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan data yang disampaikan, kualitas udara di 12 kabupaten/kota masuk kategori berbahaya.

Wilayah tersebut meliputi enam kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sulawesi Selatan, dan satu di Riau.

Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, terutama PM2.5, serta berbagai gas dan senyawa hasil pembakaran yang dapat membahayakan kesehatan. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.

Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Risiko gangguan kesehatan meningkat ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung dalam waktu lama.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah.

Irma berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat memperkuat koordinasi dalam menangani dampak kesehatan akibat karhutla. Pelayanan kesehatan, pemantauan kelompok rentan, dan penyampaian informasi kualitas udara kepada masyarakat dinilai penting agar warga dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat.

Ia menegaskan, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama selama karhutla dan kabut asap masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia.

Reporter: Agus

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini