Beranda Pemerintah Prabowo Bahas Ekonomi Nasional, Inflasi 3,23 Persen dan APBN Jadi Sorotan Jelang...

Prabowo Bahas Ekonomi Nasional, Inflasi 3,23 Persen dan APBN Jadi Sorotan Jelang Akhir Tahun

0
14
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka. BPMI Setpres

INAPOS, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Pertemuan tersebut membahas perkembangan perekonomian nasional, mulai dari inflasi, penguatan sektor manufaktur, arus modal asing, hingga realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjelang akhir tahun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif. Hal itu tercermin dari tingkat inflasi yang berada dalam kisaran sasaran pemerintah serta meningkatnya aktivitas sektor manufaktur nasional.

“Kita tadi menyampaikan kepada Bapak Presiden mengenai perkembangan ekonomi terkini. Kemarin kan keluar data rilis dari BPS mengenai inflasi 3,23 persen itu di dalam range yang memang menjadi sasaran target dari inflasi Indonesia. Jadi ini on track inflasinya,” ujar Suahasil kepada awak media seusai rapat.

Ia menjelaskan, pemerintah menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Dengan demikian, rentang inflasi yang ditargetkan berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.

Menurut Suahasil, angka inflasi sebesar 3,23 persen masih berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah.

“1,5 persen sampai dengan 3,5 persen angka inflasi kita kemarin 3,2 persen artinya itu di dalam range yang memang kita bayangkan sejak kita melakukan estimasi atas perekonomian Indonesia itu yang kita sebut dengan on track,” ungkapnya.

Selain inflasi, rapat terbatas tersebut juga membahas perkembangan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang menunjukkan tren penguatan pada Oktober 2026.

Suahasil mengungkapkan, indeks PMI manufaktur meningkat dari kisaran 52 menjadi 54. Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek permintaan pasar dan aktivitas produksi.

“Jadi meningkat, ini menunjukkan bahwa para pengusaha kita membayangkan bahwa akan ada peningkatan permintaan karena itu pengusaha mulai siap-siap untuk meningkatkan produksi dengan membeli input lebih banyak,” jelasnya.

Peningkatan PMI tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pemerintah dalam memantau perkembangan sektor manufaktur dan aktivitas dunia usaha di dalam negeri.

Dalam rapat itu, pemerintah juga mencermati perkembangan arus modal asing di pasar keuangan domestik. Suahasil melaporkan bahwa aliran modal asing masih tercatat masuk melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sementara itu, dari sisi pengelolaan keuangan negara, realisasi pendapatan dan belanja APBN hingga akhir Oktober 2026 dilaporkan masih berjalan sesuai rencana.

Meski demikian, pemerintah menghadapi agenda besar dalam dua bulan terakhir tahun anggaran, terutama untuk mengoptimalkan penerimaan negara dan memastikan belanja pemerintah terlaksana secara efektif.

Suahasil menyebut, pemerintah masih harus mengumpulkan penerimaan negara lebih dari Rp600 triliun selama November hingga Desember 2026. Adapun belanja negara yang perlu direalisasikan pada periode tersebut masih sekitar Rp990 triliun.

“Kemudian saya juga tadi sempat melaporkan APBN untuk tutup bulan Oktober dimana semuanya on track untuk pendapatan dan belanja. Dan kira-kira untuk pendapatan negara kami harus mengumpulkan lagi November-Desember ini sekitar 600 triliun lebih dan untuk belanja negara masih sekitar 990 triliun akan dibelanjakan,” kata Suahasil.

Menjelang penutupan tahun anggaran, Presiden Prabowo secara khusus memberikan arahan agar seluruh kementerian dan lembaga tetap menjaga efisiensi dalam penggunaan anggaran negara.

Suahasil menegaskan, percepatan realisasi belanja pada akhir tahun tetap dapat dilakukan. Namun, pelaksanaannya harus memperhatikan tata kelola yang baik, efisiensi, serta kesesuaian dengan target keluaran atau output yang telah direncanakan sejak awal pengajuan anggaran.

“Dua bulan terakhir seperti biasa namanya operasi APBN itu kalau di akhir tahun biasanya itu ngegas lebih cepat, lebih besar itu silahkan tetapi harus tetap efisien. Harus tetap dalam tata kelola yang baik dan tentu harus dilakukan sesuai dengan target output yang dicanangkan ketika meminta anggaran tersebut,” tegasnya.

Reporter: Agus

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini