Derita Dianah di Cirebon, Rumah Bambu Rapuh dan Anak Alami Perubahan Mental
Derita Dianah di Cirebon, Rumah Bambu Rapuh dan Anak Alami Perubahan Mental
INAPOS, CIREBON – Dianah (38) Warga Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, tinggal di rumah berukuran 3 kali 3 dengan dinding bilik bambu yang sudah berlubang dan rapuh.
Bangunan tersebut juga kondisinya sudah reot, dan dikhawatirkan roboh ketika hujan deras. Bahkan Dianah harus mengungsi ke rumah saudaranya saat hujan yang disertai angin kencang, karena air menembus dinding rumah.
Dianah tinggal bersama kedua anaknya, suaminya kerja merantau di luar pulau jawa. “Suami kerja di Kalimantan, tinggal bersama anak-anak,” kata Dianah saat ditemui di rumahnya. Rabu (13/5/2026)
Dianah mengaku tinggal di rumah tersebut sudah lama, sekitar 4 tahun. Sering merasa sedih karena kondisi rumah yang sudah tidak layak.
“Kondisi rumah begini, bilik sudah bolong, kadang air hujan masuk kedalam rumah,” ungkapnya.

Jika hujan deras, Dianah bersama kedua anaknya mengungsi ke rumah saudara suaminya yang tinggal satu desa.
“Kalau hujan deras ngungsi ke rumah saudara, takut rumah ambruk,” ujar Dianah.
Ia menjelaskan air hujan kadang menggenang di dalam rumah, lantai rumah dari tanah sehingga membuat becek.
“Air hujan kadang menggenang di dalam rumah, karena lantai rumah lebih rendah dari jalan,” jelas Dianah.
Dianah mengaku pernah mendapat bantuan kamar mandi dari pemerintah. “Kalau untuk kebutuhan mandi ada kamar mandi bantuan dari pemerintah,” tegasnya.
Dianah bekerja buruh cuci pakaian di rumah warga setempat untuk membantu suami menutupi kebutuhan rumah tangga.
“Aktivitas sehari-hari, kerja jadi buruh cuci di rumah-rumah tetangga,” ungkapnya.
Selain kondisi rumah, ia juga mengungkapkan kesedihannya karena anak pertamanya memiliki keterbelakangan mental.
“Aji (16) anak pertama, tadinya normal. Sudah sekitar satu tahun jadi pendiam dan melamun,” tutur Dianah.
Dianah menjelaskan penyebab anaknya menjadi melamun dan mengamuk, karena motornya dijual untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Awalnya karena motornya dijual, dan mungkin karena pergaulannya yang tidak baik sehingga Aji sering melamun,” jelasnya.
Dapiah menuturkan dulunya Aji pernah sekolah di SMPN 2 Pangenan, tapi waktu di kelas dua ia putus sekolah.
“Setelah putus sekolah tinggal di rumah, kalau anak yang kedua kelas empat SD,” tuturnya.
Reporter : Didin Supirman
Editor : Tim Redaksi
Baca Juga : MCK SMK Ulil Albab Cirebon Diduga Berdiri di Atas Sungai, Warga Keluhkan Bau Limbah
