FCTM Dituding Kehilangan Ruh Perjuangan, Aktivis Nilai Gerakan Pemekaran Mulai Kehilangan Arah
FCTM Dituding Kehilangan Ruh Perjuangan, Aktivis Nilai Gerakan Pemekaran Mulai Kehilangan Arah
Inapos.id, Kab. Cirebon — Forum Cirebon Timur Mandiri (FCTM) kembali menuai kritik keras. Kali ini, sorotan tidak lagi berkutat pada perbedaan strategi atau teknis perjuangan pemekaran, melainkan menyentuh persoalan mendasar: hilangnya ruh aktivisme dalam tubuh organisasi tersebut.
Sejumlah aktivis akar rumput menilai FCTM saat ini telah menjauh dari karakter gerakan rakyat. Forum yang semestinya menjadi wadah konsolidasi perjuangan masyarakat Cirebon Timur dinilai lebih menyerupai ruang aktivitas kelompok pensiunan yang minim sentuhan langsung dengan realitas sosial.
Aktivis Cirebon Timur, R. Hamzaiya, S.Hum, secara terbuka menyampaikan kritik tersebut. Ia menilai kondisi internal FCTM menunjukkan absennya militansi, keberanian moral, serta keterikatan emosional dengan penderitaan dan harapan masyarakat bawah, unsur yang seharusnya menjadi fondasi utama perjuangan pemekaran wilayah.
“Gerakan itu hidup dari kegelisahan, dari ketidakpuasan terhadap ketidakadilan. Jika di dalamnya tidak ada aktivis yang berani turun, mendengar, dan bersentuhan langsung dengan rakyat, maka yang tersisa hanyalah forum kosong. Hari ini, di FCTM, nadi itu nyaris tidak berdetak,” tegas Hamzaiya. Selasa (30/12/2025)
Menurutnya, dominasi kelompok pensiunan dalam struktur dan agenda FCTM telah menggeser orientasi perjuangan. Kerja-kerja ideologis dan advokatif yang seharusnya menjadi inti gerakan dinilai tergantikan oleh aktivitas simbolik dan seremonial. Akibatnya, forum tersebut semakin jauh dari denyut sosial masyarakat Cirebon Timur.
“Tidak ada yang salah dengan usia atau status pensiun. Tetapi ketika sebuah gerakan dikendalikan oleh mereka yang tidak lagi memiliki keterikatan langsung dengan realitas sosial rakyat, maka gerakan itu kehilangan daya dobraknya. Pemekaran bukan kegiatan pengisi waktu luang,” ujarnya.
Hamzaiya juga menyoroti pola kegiatan FCTM yang dinilainya semakin elitis. Agenda-agenda yang berlangsung di ruang-ruang nyaman dianggap mencerminkan keterputusan antara forum tersebut dengan kondisi riil masyarakat yang masih bergulat dengan persoalan ekonomi, akses layanan dasar, serta ketimpangan pembangunan.
“Rakyat sedang bertahan hidup, pelaku usaha lokal berjuang menjaga napas ekonomi wilayah, tetapi forum yang mengklaim membawa aspirasi justru tidak hadir di tengah mereka. Ini bukan sekadar ironi, ini pengkhianatan terhadap makna perjuangan,” katanya.
Ia mengingatkan, sejarah pergerakan di Indonesia selalu lahir dari keberanian politik aktivis-aktivis tulen yang bekerja dalam keterbatasan, tekanan, dan risiko. Tidak ada perubahan besar yang lahir dari kenyamanan atau rutinitas formal semata.
“Jika FCTM terus dibiarkan tanpa koreksi serius, maka ia berpotensi kehilangan legitimasi di mata publik. Masyarakat tidak butuh forum yang sibuk dengan eksistensi internal, tetapi membutuhkan gerakan yang benar-benar membela kepentingan mereka,” ujar Hamzaiya.
Meski demikian, Hamzaiya menegaskan bahwa kritik ini bukan serangan personal, melainkan peringatan keras agar FCTM melakukan evaluasi mendasar dan kembali pada khitah perjuangan rakyat. Tanpa keberanian melawan arus dan tanpa keberpihakan yang jelas, perjuangan pemekaran dinilai hanya akan menjadi slogan kosong.
“Sejarah akan membedakan mana gerakan sejati dan mana sekadar perkumpulan. Dan hari ini, FCTM sedang berada di titik penentuan: bangkit kembali sebagai pergerakan rakyat, atau tenggelam sebagai forum pensiunan yang kehilangan arah,” pungkasnya.
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi
