Minggu, Mei 10, 2026

Kondisi jembatan gantung Babakan Losari Lor, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon.
DaerahHeadline

‎Jembatan Gantung Babakan Losari Baru 3 Bulan Diresmikan Sudah Ambrol, Warga Pertanyakan Kualitas Proyek

Inapos.id, Kabupaten Cirebon – Harapan warga untuk memiliki akses aman dan nyaman melalui Jembatan Gantung Babakan Losari kini berubah menjadi kekhawatiran. Jembatan yang terletak di Desa Babakan Losari Lor, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, dan baru tiga bulan diresmikan itu mulai ambrol dan membahayakan warga yang melintas.

‎Jembatan gantung sepanjang 230 meter dan lebar 1,8 meter tersebut seharusnya menjadi penghubung vital antara Desa Babakan Losari Lor di Kabupaten Cirebon dan Desa Babakan Losari di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Namun baru seumur jagung, struktur jembatan kini mengalami kerusakan serius.

‎Warga menilai kondisi ini tidak wajar dan menimbulkan tanda tanya besar mengenai kualitas pembangunan proyek yang semestinya dikerjakan dengan standar keamanan tinggi. Ambrolnya jembatan dalam waktu begitu singkat memicu dugaan lemahnya perencanaan, kualitas material, ataupun pengawasan.

‎Padahal, jembatan tersebut baru diresmikan pada Sabtu (23/8/2025) oleh Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) Kementerian PUPR. Acara peresmian turut dihadiri Bupati Cirebon H. Imron, anggota DPR RI H. Dedi Wahidi, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Shopi Zulfia, Dandim 0620 Letkol Inf Mohammad Yusron, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Cirebon. Kehadiran banyak pejabat kala itu menunjukkan betapa pentingnya proyek ini bagi akses masyarakat.

‎Namun pentingnya proyek tidak sejalan dengan ketahanan bangunannya. Warga setempat, Yusuf, menyebutkan bahwa ambrolnya jembatan diduga terjadi pada malam hari. Ia mengatakan jika kerusakan terjadi pada pagi hari, risiko menimpa warga yang melintas bisa sangat besar.

‎”Sepertinya waktu kejadiannya tadi malam, untuk waktunya saya tidak tahu,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).

‎Yusuf juga menyoroti material pembangunan yang dinilai tidak kokoh. Ia menjelaskan bahwa bagian dinding pijakan hanya menggunakan pasangan batu, sementara bagian dalamnya diisi urugan tanah. Menurutnya, struktur semacam ini mudah jebol ketika terkena resapan air.

‎”Jadi untuk dindingnya itu cuma pasangan batu, di bagian dalamnya cuma urugan tanah. Ketika hujan air meresap ke dalam dan mengakibatkan retakan kemudian ambruk,” ungkapnya.

‎Ia menambahkan bahwa curah hujan pada malam kejadian pun tidak tinggi. Sungai Cisanggarung juga tidak dalam kondisi banjir besar. Jika kondisi air lebih ekstrem, Yusuf khawatir kerusakan jembatan bisa jauh lebih parah.

‎”Segini tadi malam tidak banjir, jika tadi malam banjir sampai meluap tanggul bisa lebih parah,” tegasnya.

‎Akibat kerusakan tersebut, akses jembatan kini resmi ditutup. Penutupan dilakukan untuk menghindari risiko warga yang biasanya ramai berkunjung, termasuk yang datang hanya untuk berfoto di area jembatan.

‎”Ya di sini kan ramai banyak yang berkunjung untuk foto-foto, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga jalurnya ditutup,” tutur Yusuf.

‎Kerusakan jembatan ini menambah panjang daftar persoalan infrastruktur desa yang tidak bertahan lama setelah diresmikan. Warga berharap pemerintah segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk mengusut kualitas konstruksi dan memastikan tanggung jawab pelaksana proyek.

‎Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap akses penghubung yang aman, ambrolnya Jembatan Gantung Babakan Losari menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik tidak hanya soal peresmian, tetapi juga soal kualitas, pengawasan, dan keberlanjutan. Pemerintah daerah maupun pusat kini ditantang untuk menjawab keresahan warga: apakah jembatan ini akan segera diperbaiki atau dibiarkan menjadi monumen kegagalan proyek?***(Din) 

44 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *