Beranda Ragam KASBON Cirebon Ajak Masyarakat Maknai Rebo Wekasan sebagai Momentum Introspeksi dan Muhasabah

KASBON Cirebon Ajak Masyarakat Maknai Rebo Wekasan sebagai Momentum Introspeksi dan Muhasabah

0
8

INAPOS, KOTA CIREBON.- Komunitas Advokat Spiritual Cirebon (KASBON) mengajak masyarakat memaknai Rebo Wekasan tidak sekadar sebagai tradisi, tetapi sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, mawas diri, meningkatkan rasa syukur, serta memperkuat iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ketua KASBON, Qorib Magelung Sakti, mengatakan kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian, termasuk musibah, mara bahaya, dan bencana alam.

Menurutnya, momentum Rebo Wekasan dapat menjadi pengingat agar manusia tidak hanya mengandalkan kemampuan diri, tetapi juga senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Rebo Wekasan bagi kami adalah sebuah pesan moral. Momentum ini mengajak kita untuk selalu introspeksi dan mawas diri terhadap berbagai mara bahaya, musibah, maupun bencana alam yang dapat menimpa kehidupan kita,” kata Qorib pada Selasa (11/8/26).

Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kerusakan lingkungan, keserakahan, dan kelalaian manusia, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi agar manusia memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, serta lingkungan sekitar.

“Kita harus meningkatkan rasa syukur dan ketakwaan kepada Allah SWT. Jangan sampai tradisi hanya menjadi seremonial, tetapi kehilangan makna terdalamnya, yaitu mengingat Allah, memperbaiki diri, memperbanyak doa, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga alam,” ujarnya.

Dalam memaknai Rebo Wekasan, KASBON turut menyoroti istilah “basuh raga” sebagai simbol pembersihan diri secara lahir dan batin.

Basuh raga tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membersihkan tubuh. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi simbol untuk membersihkan hati dari kesombongan, menjernihkan pikiran dari prasangka buruk, serta memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Qorib menegaskan, berbagai ikhtiar spiritual tetap harus ditempatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Basuh raga adalah simbol. Yang paling penting adalah bagaimana kita mampu membasuh hati, pikiran, dan jiwa. Kita melakukan ikhtiar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah SWT,” katanya.

KASBON juga mengingatkan masyarakat agar tidak memahami Rebo Wekasan secara berlebihan atau menjadikannya sebagai momentum untuk menebarkan ketakutan.

Sebaliknya, Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Qorib, musibah dan bencana harus menjadi bahan evaluasi bersama, baik dari sisi spiritual maupun rasional.

Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana melalui berbagai ikhtiar nyata, seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga hutan dan sumber air, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Jangan sampai kita hanya memaknai bencana dari sisi spiritual, tetapi mengabaikan ikhtiar nyata. Menjaga lingkungan, sumber air, dan meningkatkan kesiapsiagaan juga merupakan bagian dari ikhtiar manusia,” ujarnya.

Pada momentum Rebo Wekasan, KASBON mengajak masyarakat Cirebon meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT, memperkuat iman dan ketakwaan, serta melakukan introspeksi dan muhasabah diri.

Masyarakat juga diajak meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi mara bahaya dan bencana, menjaga alam sebagai amanah Allah SWT, memperbanyak doa, zikir, amal kebaikan, serta mempererat silaturahmi dan kepedulian sosial.

KASBON menilai tradisi Rebo Wekasan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tradisi tersebut dapat menjadi sarana untuk mengambil hikmah, memperbaiki diri, dan meningkatkan kesadaran manusia terhadap hubungan dengan Tuhan, sesama, serta alam.

Qorib pun menyampaikan refleksinya mengenai makna Rebo Wekasan bagi kehidupan manusia.

“Jangan takut kepada hari, tetapi takutlah ketika kita kehilangan kesadaran untuk memperbaiki diri. Rebo Wekasan hendaknya menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan untuk terus bersyukur, berikhtiar, bermuhasabah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini