Beranda Ragam Keabadian Seorang Maestro: Selamat Jalan, Penatua Amos Ghama Kakomba, S.Sos.

Keabadian Seorang Maestro: Selamat Jalan, Penatua Amos Ghama Kakomba, S.Sos.

0
9

MANADO — “Adat tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Peribahasa itu bukan sekadar kalimat yang dihafal, melainkan napas dan denyut nadi hidup Maestro Amos Ghama Kakomba, S.Sos.

Sepanjang hayatnya, beliau berdiri bagai benteng kokoh yang tak kenal lelah merawat, menjaga, dan mencintai warisan leluhur Nusa Utara, yakni: Sangihe, Sitaro, dan Talaud. Namun, takdir Sang Pencipta adalah kepastian yang tak terelakkan. Pada Selasa (28/7/2026), Sang Maestro telah menyelesaikan kembara tugasnya di dunia dan melangkah pulang ke keabadian.

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, kepergian ini meninggalkan rindu dan duka yang teramat dalam. Beliau bukan sekadar budayawan di atas panggung; beliau adalah bagian dari jiwa masyarakat itu sendiri.

Sapaan akrab Pak Ghama, panggilan penuh kasih Ayah, hingga rasa hormat sebagai Penatua, menjadi saksi betapa harum dan dalamnya jejak kebaikan yang beliau ukir di hati banyak orang.

Cinta almarhum pada seni dan tradisi adalah cinta yang dibawa hingga hembusan napas terakhir. Di detik-detik akhir usianya, beliau masih mempersembahkan seluruh jiwanya untuk budaya: bertugas sebagai dewan juri Masamper Oikumene Bermazmur 2026 di GMIST Oikumene Lesabe I, Tabukan Selatan, Sangihe.

Di tanah kelahirannya sendiri, di tengah gema lantunan Masamper yang begitu ia agungkan, Sang Maestro menutup mata untuk selamanya. Sebuah kepulangan yang indah, tenang, dan penuh kehormatan. Jejak Keagungan Adat dan Senandung Masamper

Kehidupan almarhum adalah jalinan pengabdian yang tak ternilai bagi kebudayaan Sulawesi Utara. Nama beliau telah terpatri abadi dalam ritual serta kesenian sakral daerah:

Sebagai pemotong kue Tamo dalam Pesta Adat Tulude, tugas ini bukanlah seremoni biasa, melainkan ritual sakral yang sarat makna spiritual. Sebuah dialog kebudayaan yang diiringi pembacaan sastra kuno Sangihe, doa adat, serta ungkapan syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta. Hanya jiwa yang memegang teguh ajaran leluhur dan memiliki kedalaman wawasanlah yang sanggup mengembannya. Dan Pak Ghama menjalankannya dengan begitu anggun dan berwibawa.

Lain lagi sebagai seorang maestro sejati, ketulusan, wawasan, serta keobjektifannya menjadikan beliau pilar utama dan sosok juri yang sangat dihormati dalam berbagai ajang Masamper.

Kepergian sosok yang tak pernah kehabisan senyum dan kehangatan ini meluapkan genangan air mata yang tak terbendung. Dari rumah duka hingga peristirahatan terakhirnya pada Minggu (2/8/2026) di Kelurahan Kakenturan II, ribuan pelayat datang berbondong-bondong dari Bitung, Manado, Minahasa, hingga Sangihe. Isak tangis dan doa-doa terbaik membumbung tinggi, mengantarkan sosok yang sangat dicintai ini menuju peristirahatan abadi.

Penghormatan yang tinggi turut hadir dari para pimpinan daerah. Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E. beserta istri meluangkan waktu melayat secara langsung ke rumah duka, didampingi jajaran pimpinan SKPD dan perangkat daerah. Ada juga dari pihak swasta serta sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Ucapan belasungkawa mendalam juga mengalir dari Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka serta Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H

Kehadiran mereka menjadi wujud penghormatan bagi sosok yang tak hanya tekun mengabdi di dunia kebudayaan, tetapi juga setia dan rendah hati melayani sebagai Penatua di GMIM Nazaret Bitung.

Kini, warisan keteladanan, kesederhanaan, dan kebaikan almarhum tetap hidup abadi dalam pelukan hangat sang istri tercinta, Emelia Lahunduitan, serta ketiga buah hati kebanggaannya: Delsisus Varenheid, Ghiovany Giraldo, dan Angelia Solidea Glori.

​”Ketika waktu terenggut tanpa peringatan, hanya kebaikan yang tersisa. Saat tubuh kembali menyatu dengan tanah, yang abadi adalah kenangan, karya, dan jejak-jejak kasihnya.”

Selamat jalan, Penatua Amos Ghama Kakomba, S.Sos.

Kini suling telah hampa dan senandung Masampermu di dunia telah hening, namun gema keteladanan, karya, serta budi baikmu akan tetap hidup, menari, dan abadi di dalam sanubari kami. Panggungmu di dunia telah usai, namun kebaikanmu takkan pernah terkikis waktu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini