Minggu, Mei 10, 2026

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menjadi inspektur upacara peringatan hari pendidikan nasional tingkat provinsi tahun 2026 di Balai Kota DKI Jakarta. Foto: Ist
DaerahPemerintah

Rano Karno Tegaskan Pemprov DKI Jakarta Jadikan Pendidikan sebagai Instrumen Pembebasan dan Kemanusiaan

INAPOS, JAKARTA.- Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjadikan pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikan dalam Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tingkat Provinsi di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/26).

Dalam pidatonya, Rano menekankan bahwa akses pendidikan di Jakarta harus bersifat inklusif tanpa hambatan birokrasi maupun finansial.

Rano Karno menyoroti pentingnya meruntuhkan sekat-sekat yang menghalangi anak bangsa dalam mengenyam pendidikan. Ia menegaskan bahwa Pemprov DKI terus berupaya maksimal agar tidak ada anak di Jakarta yang tertinggal karena persoalan biaya, akses, maupun kendala ijazah.

“Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan tembok. Pendidikan harus menjadi pintu, bukan pagar,” tegas Rano di hadapan peserta upacara.

Sebagai langkah nyata, Pemprov DKI Jakarta menghadirkan program pemutihan ijazah bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Program ini mencakup seluruh jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Bekerja sama dengan Baznas Bazis DKI Jakarta, pada tahap pertama tahun 2026 ini, pemerintah akan membagikan ijazah kepada 2.026 peserta didik yang sebelumnya tertahan. Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian masa depan bagi para lulusan agar dapat melanjutkan studi atau memasuki dunia kerja.

Selain penguatan di dalam negeri, Pemprov DKI juga menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan daya saing lulusan vokasi. Pada momentum Hardiknas ini, Rano Karno resmi melepas 561 alumni SMK untuk bekerja di luar negeri, tepatnya di Jepang, Malaysia, dan Jerman.

“Diharapkan mereka tidak hanya membawa semangat keterampilan dan disiplin, tetapi juga mampu membawa nama baik Jakarta dan Indonesia di kancah internasional,” tambahnya.

Menutup sambutannya, Rano mengajak seluruh elemen pendidikan untuk kembali menghidupkan filosofi Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru yang ia sebut sebagai “penjaga api peradaban”. Menurutnya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik yang megah, tetapi oleh ruang kelas yang menyala dan dedikasi guru dalam menuntun mimpi anak-anak.

“Pendidikan adalah jalan panjang untuk memerdekakan manusia. Itulah roh besar yang diwariskan oleh Bapak Pendidikan kita,” pungkas Rano.

Reporter: Agus

Editor: Redaksi Inapos 

 

57 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *