Beranda Ragam Siraman Panjang Keraton Kasepuhan Cirebon Digelar, Tradisi Jelang Puncak Maulid Nabi 2026

Siraman Panjang Keraton Kasepuhan Cirebon Digelar, Tradisi Jelang Puncak Maulid Nabi 2026

0
5
Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan Cirebon. Kris

INAPOS, KOTA CIREBON.- Keraton Kasepuhan Cirebon kembali melaksanakan tradisi Siraman Panjang sebagai salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2026.

Tradisi yang sarat nilai sejarah dan spiritual tersebut digelar di Bangsal Pungkuran Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (20/8/2026), bertepatan dengan tanggal 5 Mulud dalam penanggalan Jawa.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, P.R. Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan Siraman Panjang merupakan salah satu rangkaian tradisi yang dilaksanakan menjelang puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Alhamdulillah, pada hari ini Keraton Kasepuhan baru saja melaksanakan tradisi Siraman Panjang, salah satu rangkaian untuk memperingati Maulid Nabi tahun 2026. Bertepatan hari ini hari Kamis, kalau tanggal Jawanya tanggal 5 Mulud,” ujar P.R. Goemelar.

Ia menjelaskan, puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026.

Menurut Goemelar, Siraman Panjang memiliki makna sebagai simbol membersihkan diri. Prosesi tersebut sekaligus menjadi momentum tahunan untuk membersihkan sejumlah benda peninggalan Sunan Gunung Jati yang masih tersimpan dan dirawat oleh Keraton Kasepuhan.

“Makna Siraman Panjang sebetulnya adalah salah satu peninggalan dari Sunan Gunung Jati. Ada beberapa peninggalan, yaitu piring tafsi ada tujuh, piring pengiring 38, ada guci atau kong yang nanti akan diarak di acara puncak tanggal 26. Maknanya yaitu membersihkan diri. Di samping itu, setahun sekali dicucinya,” jelasnya.

Tujuh piring tafsi yang menjadi bagian dari prosesi tersebut juga memiliki makna tersendiri. Menurut Goemelar, jumlah tujuh piring melambangkan tujuh hari dalam satu pekan, mulai dari Senin hingga Minggu.

“Kalau untuk piring tafsi itu tujuh, yang menandakan kelahiran anak manusia itu dari hari Senin sampai Minggu,” katanya.

Ia menuturkan, benda-benda yang dibersihkan dalam tradisi Siraman Panjang tersebut merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati yang diperkirakan telah berusia hampir enam abad.

“Benda-benda tadi itu adalah peninggalan dari Sunan Gunung Jati, kurang lebih usianya hampir enam abad,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan di Keraton Kasepuhan tidak berhenti pada pelaksanaan Siraman Panjang. Setelah prosesi tersebut, dilakukan pula pembukaan bekasem ikan yang sebelumnya difermentasi di dalam dua guci selama kurang lebih satu bulan.

“Nah, kebetulan tadi setelah Siraman Panjang, kita menyaksikan buka bekasem ikan, yaitu yang telah difermentasi di guci dua itu, kalau tidak salah hampir satu bulan. Baru dibuka juga bubaran di Siraman Panjang tadi,” jelas Goemelar.

Ikan hasil fermentasi tersebut selanjutnya akan dijemur sebelum digunakan sebagai salah satu bahan makanan dalam rangkaian puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Nanti ikannya setelah dibuka itu akan dijemur, dan nanti akan disajikan di nasi jimat atau nasi rosul saat di puncak Maulid Nabi di tanggal 26, insya Allah,” ujarnya.

Selain bekasem ikan, persiapan boreh juga mulai dilakukan setelah pelaksanaan Siraman Panjang. Boreh menjadi salah satu bagian dari persiapan bahan-bahan yang nantinya akan digunakan dan diarak dalam rangkaian puncak Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Untuk boreh nanti rangkaiannya sama. Mulai hari ini boreh itu dibuat, istilahnya semua nanti rangkaian bahan-bahan yang akan diarak nanti di tanggal 26 ini, mulai dari hari ini, setelah Siraman Panjang tadi,” pungkasnya.

Tradisi Siraman Panjang menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan budaya dan sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon. Prosesi tersebut juga menunjukkan bagaimana tradisi leluhur tetap dipertahankan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini