Terancam Tenggelam! Warga Desa Ambulu Cirebon Gelar Ritual dan Doa Lawan Banjir Rob yang Kian Ganas
Terancam Tenggelam! Warga Desa Ambulu Cirebon Gelar Ritual dan Doa Lawan Banjir Rob yang Kian Ganas
Inapos.id, Kab. Cirebon – Ketika air laut perlahan merangsek ke ruang tamu dan dapur, warga Desa Ambulu, Kabupaten Cirebon, kini hidup dalam kecemasan yang nyata. Ancaman kehilangan rumah dan kampung halaman akibat banjir rob membuat ribuan warga berada di persimpangan antara bertahan atau pergi. Di tengah keterbatasan upaya teknis, mereka memilih satu jalan terakhir yaitu mengetuk pintu langit.
Pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, menjadi ruang sunyi penuh harap. Di bawah terik matahari dan hembusan angin laut yang asin, puluhan warga berkumpul di bibir pantai. Tak ada musik, tak ada perayaan. Yang terdengar hanya doa, lantunan harap, dan kegelisahan akan masa depan desa yang kian terancam tenggelam.
Ritual adat itu digelar menyusul kondisi banjir rob yang semakin parah dari waktu ke waktu. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan, kini berubah menjadi ancaman. Air pasang tak lagi berhenti di pematang tambak, melainkan masuk ke rumah-rumah warga, menggenangi lantai, merusak perabot, dan memaksa warga hidup berdampingan dengan air asin setiap hari.
Kekhawatiran akan tenggelamnya Desa Ambulu bukan lagi sekadar cerita atau ketakutan berlebihan. Warga melihat langsung bagaimana garis pantai terus bergeser, sementara air laut kian tinggi dan sulit dibendung. Ancaman itu kini hadir di depan mata.
Di tengah kondisi tersebut, religiusitas warga semakin menguat. Selain ritual adat di pesisir, doa-doa terus dipanjatkan di masjid dan rumah-rumah. Tradisi lokal dan ketakwaan menyatu menjadi sandaran batin bagi warga yang merasa telah kehilangan banyak hal akibat terjangan rob.
Kuwu Ambulu, Sunaji, menyebut langkah warga tersebut sebagai gambaran kelelahan dan frustrasi yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Ia mengakui bahwa pemerintah desa telah berupaya melakukan berbagai langkah, namun belum mampu menghadirkan solusi permanen.
“Warga sudah lelah. Bencana rob ini melanda desa kami terus-menerus. Kami dari pemerintah desa sudah melakukan berbagai upaya pembangunan dan koordinasi, namun jujur saja, hingga saat ini hasilnya belum membuahkan solusi yang permanen,” ujar Sunaji. Rabu (07/01/2026).
Sunaji menegaskan, dirinya sangat memahami pilihan warganya menempuh jalur ritual. Menurutnya, itu adalah bentuk ikhtiar batin sekaligus ungkapan harapan agar alam kembali bersahabat.
Belum lama ini, pemerintah desa bersama masyarakat juga menggelar ziarah. Fokus utama kegiatan tersebut adalah berdoa agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan tanggul laut guna mengurangi penderitaan warga Ambulu.
“Jadi wajar jika mereka melakukan ritual tersebut. Ini adalah ikhtiar batin. Harapan mereka satu, agar bencana yang selama ini dirasakan bisa membaik, dan anak cucu mereka masih bisa melihat Desa Ambulu tetap berdiri, tidak hilang ditelan laut,” lanjutnya.
Ritual dan doa kini menjadi simbol harapan terakhir warga Desa Ambulu. Di tengah keterbatasan bantuan fisik, mereka mencoba bertahan dengan keyakinan dan solidaritas. Ketukan pada “pintu langit” menjadi cara mereka melawan rasa putus asa.
Hingga saat ini, warga masih menanti perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat, terutama dalam bentuk bantuan teknis seperti pembangunan tanggul laut atau tanggul penahan rob yang lebih kokoh. Sebelum solusi nyata itu hadir, doa dan ritual menjadi satu-satunya kekuatan yang membuat warga Ambulu tetap bertahan di tanah kelahiran yang kian tergerus air pasang.
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi
