Sabtu, April 18, 2026

Pembongkaran jembatan Kalibaru, Kota Cirebon
DaerahHeadlineHukumSeni dan Budaya

Pembongkaran Jembatan Kalibaru Kota Cirebon Picu Polemik, Nilai Sejarah Kolonial Terancam Hilang

INAPOS, KOTA CIREBON.- Pembongkaran jembatan besi kuno peninggalan masa kolonial Belanda di kawasan Sungai Sukalila, Jalan Sisingamangaraja, Kota Cirebon, menuai perhatian publik. Jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Kalibaru ini dinilai memiliki nilai historis tinggi sebagai bagian penting dari jalur distribusi logistik kereta api pada masanya.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada awal April 2026, proses pembongkaran jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad itu sudah berlangsung selama beberapa hari. Struktur besi jembatan terlihat telah dipotong menjadi beberapa bagian menggunakan alat las, menandakan pembongkaran dilakukan secara bertahap.

Pemerhati cagar budaya Keraton Kacirebonan, Elang Iyan Ariffudin, menyayangkan langkah pembongkaran tersebut. Ia menilai jembatan bersejarah itu seharusnya dapat dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Kota Cirebon.

“Kami pada dasarnya mendukung upaya pemerintah dalam menata kawasan Sukalila agar lebih baik. Namun sangat disayangkan jika jembatan bersejarah ini harus dibongkar. Padahal jika direvitalisasi dan dilengkapi papan informasi, bisa menjadi sumber edukasi bagi generasi muda,” ujarnya pada Kamis (2/4/26).

Menurut Elang Iyan, jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur lama, melainkan menyimpan jejak penting perkembangan transportasi dan distribusi komoditas di Cirebon pada masa lalu, khususnya dari wilayah Kesenden menuju Pelabuhan Cirebon.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa pembongkaran ini akan menghilangkan jejak sejarah yang tidak tergantikan. Generasi mendatang dikhawatirkan tidak lagi dapat menyaksikan secara langsung bukti perkembangan infrastruktur transportasi era kolonial di Kota Cirebon.

“Dengan kondisi jembatan yang kini telah terpotong-potong, jejak sejarah itu terancam hilang sepenuhnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Elang Iyan menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki catatan sejarah panjang sejak era kolonial. Pakootookan merupakan sub-division nomor urut 101 di wilayah division Cheribon yang tercatat dalam administrasi kolonial Inggris tahun 1815–1816.

Pada awal abad ke-20, Jalan Pekutukan—yang kini dikenal sebagai Jalan Kapten Samadikun—menjadi jalur penting yang menghubungkan berbagai kawasan permukiman seperti Kesenden, Kebonbenteng, Kemlaten (Kebon Melati), Pekutukan, hingga Kampung Kebonbaru.

Di kawasan itu juga berdiri sejumlah fasilitas penting, seperti Gaspabriek (pabrik gas) dan Ini. Hospital atau Rumah Sakit Pribumi yang kini menjadi Polres Cirebon Kota. Sementara di bagian selatan terdapat Vischpasar (Pasar Ikan) serta Scheepstimmerwerf atau galangan kapal.

“Jembatan Kalianyar yang berada di ujung selatan menjadi penghubung vital, termasuk jalur paralel dengan rel kereta api menuju stasiun. Ini menunjukkan betapa strategisnya kawasan tersebut dalam sistem transportasi masa lalu,” jelasnya.

Ia menambahkan, Jalan Pekutukan yang kini berganti nama menjadi Jalan Kapten Samadikun merupakan bentuk penghormatan kepada pahlawan yang gugur dalam pertempuran laut Palagan Samudra Cirebon pada 5 Januari 1947.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos

 

54 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *