INAPOS, JAKARTA,- Paus, hewan yang hidup di laut dan merupakan hewan terbesar di Bumi. Mamalia raksasa ini milai dari paus sperma kerdil seberat 272 kg hingga paus biru yang beratnya mencapai lebih dari 200 ton.
Dikutip dari laman natinalgeographic.grid.id, ternyata, kisah paus tidak dimulai di laut. Selama jutaan tahun sebelum paus purba seperti Basilosaurus hidup sepenuhnya di lautan, garis pantai dan muara Bumi prasejarah dipenuhi oleh paus amfibi yang lebih menyerupai berang-berang dan buaya, bukannya paus bungkuk. Paus pertama hidup dengan berjalan!
Para paleontolog telah mempelajari asal-usul paus sejak akhir abad ke-19. Mereka tahu bahwa paus berevolusi dari nenek moyang yang hidup di darat karena adanya sisa-sisa tungkai belakang yang kadang-kadang ditemukan pada kerangka paus dan petunjuk anatomi lainnya yang dimiliki bersama dengan mamalia darat.
Lalu, siapa nenek moyang paus, dan bagaimana perubahan evolusi yang luar biasa dari darat ke air terjadi, masih belum jelas. Tetapi sejak tahun 1970-an, para paleontolog telah menemukan beragam paus purba.
Temuan fosil tersebut menunjukkan bahwa paus adalah artiodactyl—anggota kelompok mamalia berkuku yang meliputi kuda nil dan sapi—dan bahwa paus air seperti yang kita kenal sekarang merupakan salah satu cabang dari beragam paus semi-akuatik purba yang berevolusi di perairan dangkal.
Lantas, bagaimana kehidupan paus saat masih hidup di darat? Untuk mengetahui hal ini, kita dapat melihat dari contoh-contoh paus darat purba berikut ini.
Pakicetus

Di pantai Pakistan prasejarah sekitar 50 juta tahun yang lalu, pernah hidup mamalia yang samar-samar mirip anjing berlari di sepanjang pasir. Makhluk seukuran anjing Labrador itu adalah Pakicetus, salah satu paus paling awal yang diketahui.
Sekilas, Pakicetus tidak terlihat seperti hewan yang mampu melakukan lebih dari sekadar berenang gaya anjing. Namun setidaknya dua ciri menunjukkan bahwa paus purba ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berenang.
Menurut laman Smithsonian Magazine, mata Pakicetus terletak relatif tinggi di kepala mamalia tersebut, mirip dengan aligator dan buaya yang menjulurkan mata dan hidungnya keluar dari air untuk mengamati pantai.
Tulang Pakicetus juga relatif padat—suatu kondisi yang dikenal oleh para paleontolog sebagai osteosklerosis. Dengan kata lain, tulang Pakicetus sedikit lebih berat daripada tulang mamalia lain dengan ukuran yang sebanding dan berfungsi sebagai pemberat untuk membantu karnivor tersebut mencapai daya apung netral di dalam air—dan mengalokasikan lebih banyak energi untuk berenang daripada tetap terendam.
Ichthyolestes

Pada tahun 1958, para paleontolog mempelajari fosil gigi yang ditemukan di batuan berusia 50 juta tahun di sekitar Ganda Kas, Pakistan. Mereka mengira bahwa gigi-gigi tersebut cukup tidak biasa untuk menandakan fosil mamalia yang sebelumnya tidak dikenal yang mereka sebut Ichthyolestes, “pencuri ikan.”
Eksplorasi lebih lanjut di daerah tersebut akhirnya menemukan lebih banyak bagian kerangka Ichthyolestes, dan pada abad ke-21 hewan tersebut diakui sebagai kerabat Pakicetus yang berukuran sebesar rubah.
Paus purba ini masih memiliki pinggul yang menyatu dengan tulang belakang dan tulang pergelangan kaki yang tampak seperti milik kerabatnya yang hidup di darat, tetapi tulangnya sangat padat sehingga berlari cepat di darat akan berisiko mematahkannya.
Seperti kerabat dekatnya, Ichthyolestes hidup di sekitar muara sungai dan estuari, mungkin mendorong tubuhnya dari dasar perairan dangkal saat mencari ikan untuk dimakan.
Ambulocetus

Dari semua paus purba yang ditemukan oleh para paleontolog, tidak ada yang memiliki seringai bergigi seperti Ambulocetus. Paus berusia 48 juta tahun ini memiliki moncong panjang yang penuh dengan gigi tajam seperti pisau, yang sangat cocok untuk menangkap ikan dan mungkin juga menangkap makhluk kecil yang lengah dari tepi muara sungai prasejarah Pakistan.
Ambulocetus adalah perenang yang jauh lebih kuat daripada pendahulunya seperti Pakicetus. Tubuh mamalia ini jauh lebih mirip berang-berang, dan para paleontolog memperkirakan bahwa Ambulocetus berenang dengan menggerakkan tulang punggungnya naik turun sambil menggunakan kaki belakangnya yang seperti dayung untuk memberikan dorongan tambahan.
Gaya berenang ini merupakan cikal bakal cara paus modern menggerakkan sirip ekornya yang lebar naik turun untuk mendorong diri mereka sendiri melalui air.
Saat di darat, menurut sebuah artikel diSmithsonian Magazine,Ambulocetus dapat menopang berat badannya sendiri dengan anggota tubuhnya tetapi bukanlah pelari seperti serigala. Kaki Ambulocetus yang besar dan lebar menunjukkan bahwa ia bergerak lebih seperti berang-berang atau singa laut di darat daripada nenek moyangnya yang hidup di darat.
Kutchicetus

Kutchicetus hidup 46 juta tahun yang lalu. Seperti banyak paus purba, Kutchicetus adalah hewan seukuran serigala yang hidup di habitat air payau di sepanjang pantai yang sekarang menjadi India dan Pakistan. Moncongnya sangat panjang dan dangkal, bagus untuk menerkam mangsa yang licin dengan cepat.
Berdasarkan anggota tubuh dan pinggul mamalia tersebut, para paleontolog berpendapat bahwa Kutchicetus masih dapat menopang berat badannya di darat tetapi hidup seperti berang-berang, bergelombang di air untuk mencari makanan kecil sebelum keluar dari kolam prasejarah untuk menghangatkan bulunya di bawah sinar matahari.
Phiomicus
Pantai-pantai yang sekarang menjadi Pakistan dan India merupakan tempat penting bagi asal-usul paus. Paus purba dan nenek moyangnya ditemukan di sana dalam batuan yang berusia lebih dari 50 juta tahun.
Namun sekitar 43 juta tahun yang lalu, paus mulai menjauh dari pantai-pantai yang sudah dikenal. Fosil Phiomicetus dari Mesir menandai awal mula penyebaran paus di seluruh wilayah laut bumi.
Saat masih hidup, Phiomicetus diperkirakan memiliki panjang sekitar sepuluh kaki (sekitar 3 meter). Di darat, paus ini dapat berjalan tetapi hanya dengan cara yang canggung dan kikuk, tetap dekat dengan air di mana ia lebih nyaman berenang, sama seperti anjing laut yang tetap dekat dengan air saat ini.
Seperti paus terkait lainnya, ia memiliki gigi berbentuk kerucut yang mencengkeram di bagian depan rahang dan gigi pemotong di pipi. Bersama dengan petunjuk dari tengkorak paus yang mengisyaratkan adanya perlekatan otot yang kuat, para paleontolog berpikir Phiomicetus memiliki gigitan yang kuat yang diandalkannya untuk memangsa hiu, kura-kura, dan mungkin paus purba lainnya.
Sumber :






