INAPOS. MADINAH — Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Tanah Suci menjadi pengalaman berharga bagi rombongan jamaah umrah Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ) Cirebon. Setibanya di Madinah, jamaah langsung dihadapkan pada satu pelajaran penting waktu di Tanah Suci begitu berharga dan setiap kesempatan beribadah tidak boleh disia-siakan.
Rombongan yang dipimpin Ketua YPSGJ, Prof. Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., tiba di Arab Saudi dalam kondisi sehat dan selamat. Jamaah menempuh perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan transit di Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Dari Jeddah, jamaah kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan didampingi Tour Leader ICMI Travel, Ustaz Fariddzul Adzar atau yang akrab disapa Izul, serta mutawwif Ustaz Ramadhan Syahrul Mubarak dan Muhammad Hajan Makbulla.
Sesampainya di hotel, jamaah tidak ingin berlama-lama beristirahat. Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 100 meter dari hotel langsung menjadi tujuan pertama untuk menunaikan salat berjamaah.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi rombongan adalah kesempatan melaksanakan Salat Jumat di Masjid Nabawi.
Bagi jamaah, khususnya yang baru pertama kali datang ke Madinah, pengalaman tersebut bukan sekadar bagian dari perjalanan. Beribadah di salah satu masjid paling suci dalam Islam menjadi momen yang telah lama dinantikan.
Namun, berada di Madinah juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya disiplin waktu. Jamaah harus mengatur waktu dengan baik agar tidak kehilangan kesempatan untuk salat berjamaah di dalam Masjid Nabawi.
Hal itu dirasakan Akbar Maulana Al Maarij, perwakilan mahasiswa UGJ yang mendapat kesempatan mengikuti perjalanan umrah tersebut.
“Kalau terlambat sedikit, kita tidak bisa masuk ke dalam Masjid Nabawi untuk salat berjamaah. Kita hanya bisa melaksanakan salat di pelataran luar,” tutur Akbar Maulana Al Maarij.
Menurut Akbar, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting selama berada di Tanah Suci.
“Dari disiplin waktu mengerjakan salat sampai bagaimana tidak menyia-nyiakan waktu untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT,” ujarnya.
Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Jeddah hingga akhirnya tiba di Madinah juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Akbar.
“Naik pesawat terasa begitu nikmat, kemudian mengikuti rangkaian ibadah di Masjid Nabawi dan city tour Madinah. Tetapi selama beberapa hari di Madinah, saya lebih banyak fokus ibadah di Masjid Nabawi. Menurut saya, sangat disayangkan kalau kesempatan ini hanya digunakan untuk jalan-jalan,” katanya.
Setelah beristirahat, jamaah melanjutkan rangkaian kegiatan dengan ziarah ke Raudhah di kompleks Masjid Nabawi.
Ziarah dilakukan secara bergantian antara jamaah perempuan dan laki-laki. Bagi jamaah, Raudhah menjadi salah satu lokasi yang paling dinantikan selama berada di Madinah.
Rombongan kemudian mengikuti tur lokal di sekitar Masjid Nabawi. Didampingi mutawwif dari ICMI Travel, jamaah mendapatkan penjelasan mengenai sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Di antaranya Saqifah Bani Sa’idah, Pasar Manakha, Masjid Al-Ghamamah, Masjid Ali bin Abi Thalib, serta Pemakaman Baqi.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wisata sejarah. Jamaah diajak memahami kembali perjalanan sejarah Islam, termasuk kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Pada hari berikutnya, agenda jamaah kembali dipusatkan pada ibadah di Masjid Nabawi dan kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah di Madinah.
Setelah Salat Subuh dan sarapan pagi, jamaah dijadwalkan mengikuti city tour menuju Masjid Quba, kebun kurma, dan Jabal Uhud.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, kondisi cuaca menjadi perhatian rombongan. Suhu di Madinah yang mencapai sekitar 43 hingga 45 derajat Celsius membuat jamaah harus mampu menjaga kondisi tubuh.
Tour Leader ICMI Travel, Ustaz Fariddzul Adzar, memastikan seluruh jamaah dalam kondisi sehat.
“Alhamdulillah kondisi jamaah sehat semua. Cuaca sedang masa transisi pancaroba. Suhu bisa mencapai sekitar 43 hingga 45 derajat Celsius dan terkadang ada sedikit badai debu pada sore hari, tetapi sejauh ini tidak mengganggu aktivitas jamaah dalam menjalankan ibadah,” jelas Ustaz Izul.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas di luar ruangan.
Istirahat yang cukup, memperbanyak minum air putih, menjaga asupan vitamin, serta mengatur aktivitas menjadi bagian penting untuk mempertahankan stamina selama berada di Tanah Suci.
“Yang paling penting jamaah menjaga daya tahan tubuh, cukup istirahat, banyak minum air putih dan tidak berlebihan melakukan aktivitas di area luar Madinah,” pesannya.
Hal serupa disampaikan Angga Gumilar Saputra, SE, Dosen Kemahasiswaan UGJ. Menurutnya, kondisi cuaca panas tidak menyurutkan semangat jamaah untuk beribadah.
“Meski cuaca sedang panas di siang hari, hal tersebut tidak mengurangi semangat jamaah dan tidak membuat kendor dalam menjalankan ibadah di Masjid Nabawi,” ungkapnya.
Perjalanan rombongan YPSGJ Cirebon di Madinah memberikan pelajaran sederhana tetapi penting. Berada di Tanah Suci bukan sekadar tentang mendatangi tempat-tempat bersejarah, tetapi bagaimana memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah.
Jamaah juga dituntut mampu mengatur tenaga, menjaga kesehatan, disiplin terhadap waktu salat, serta membatasi aktivitas yang tidak terlalu penting.
Pengalaman tersebut menjadi catatan bagi calon jamaah umrah lainnya. Kesempatan berada di Madinah tidak hanya untuk berfoto maupun berbelanja, tetapi juga menjadi momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Madinah, rombongan YPSGJ Cirebon dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Makkah Al-Mukarramah.
Di kota suci tersebut, jamaah akan menjalankan rangkaian utama ibadah umrah di Masjidil Haram, mulai dari niat ihram, tawaf, sa’i hingga tahallul.
Jamaah juga direncanakan melaksanakan umrah berikutnya apabila kondisi memungkinkan.
Ustaz Izul berharap seluruh jamaah dapat melanjutkan perjalanan menuju Makkah dalam keadaan sehat dan mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan lancar.
Perjalanan dari Cirebon menuju Madinah melalui Doha kini menjadi bagian dari cerita spiritual para jamaah. Namun, perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lainnya.
Ada pelajaran tentang kesabaran, disiplin, menjaga kesehatan, menghargai waktu, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk beribadah.
Semua pengalaman itu kemudian menjadi bekal bagi jamaah untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah dan menjalani puncak perjalanan spiritual mereka melalui rangkaian ibadah umrah.
Reporter : Didin








