Beranda Ragam Warga Desa Astana Cirebon Ingin Tradisi Sedekah Bumi dan Ider-Ideran Kembali Digelar

Warga Desa Astana Cirebon Ingin Tradisi Sedekah Bumi dan Ider-Ideran Kembali Digelar

0
8
Ilustrasi ider-ideran Nadran. Kris

INAPOS, KAB CIREBON – Masyarakat Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mendorong agar tradisi budaya berupa Festival Sedekah Bumi, arak-arakan, dan nadran kembali digelar.

Tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting untuk terus dilestarikan sebagai warisan leluhur.

Rangkaian kegiatan budaya itu juga berkaitan erat dengan kawasan makam Sunan Gunung Jati yang selama ini menjadi salah satu pusat kegiatan budaya dan religi masyarakat di wilayah Gunung Jati.

Juru Kunci atau Jeneng Makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, mengatakan, usulan untuk kembali menggelar tradisi ider-ideran muncul dari sejumlah tokoh masyarakat.

“Intinya berdasarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya acara ider-ideran itu diadakan kembali,” kata Nasir seusai rapat membahas rencana kegiatan tersebut, Selasa (15/9/2026).

Meski demikian, Nasir menyebut pelaksanaan tradisi tersebut perlu mempertimbangkan kondisi lalu lintas serta aktivitas masyarakat. Salah satu penyesuaian yang tengah dipertimbangkan adalah perubahan rute arak-arakan.

“Rutenya mungkin yang tadinya sampai batasan Taman Krucuk, saya akan rubah sampai batasan di Klayan atau di Pertamina saja,” ujarnya.

Menurut Nasir, perubahan rute tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi kemacetan yang mungkin terjadi selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Tak hanya rute, waktu pelaksanaan juga akan disesuaikan. Jika sebelumnya keberangkatan acara direncanakan pada Sabtu, pihaknya akan mengusulkan agar kegiatan digelar pada Minggu pagi.

“Dan harinya pun tadinya hari Sabtu keberangkatan acara, saya akan rubah menjadi hari Minggu pagi,” katanya.

Nasir berharap rencana menghidupkan kembali tradisi tersebut dapat memperoleh dukungan dari masyarakat Desa Astana dan wilayah sekitarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan masyarakat agar tradisi yang diwariskan oleh para leluhur tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Yang paling penting bagaimana tradisi ini bisa kembali hidup dan tetap menjadi bagian dari masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini