Beranda Pemerintah Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu, Pemprov Jateng dan BI Gelar Gerakan Pangan...

Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu, Pemprov Jateng dan BI Gelar Gerakan Pangan Murah untuk Kendalikan Inflasi

0
14
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tinjau gerakan pangan murah

INAPOS, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia (BI) menggelar aksi peduli melalui gerakan pangan murah dan penyaluran berbagai bantuan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus mengendalikan inflasi.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Program ini menyasar pedagang warung, pelaku usaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Bank Indonesia, Perum Bulog, petani, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga keterjangkauan harga bahan pokok.

Menurutnya, intervensi diperlukan menyusul kenaikan harga sejumlah komoditas pangan penting, terutama cabai merah dan beras. Harga cabai merah bahkan terpantau mencapai Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

“Kerja kolaboratif ini yang dijadikan sebagai role model, sehingga Jawa Tengah tetap menjadi provinsi yang inflasinya terkendali. Tidak hanya di Semarang, tetapi juga daerah lain agar inflasi kita terjaga,” kata Luthfi saat membuka sekaligus meninjau pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia menegaskan, gerakan pangan murah diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau. Selain itu, program tersebut juga ditujukan untuk meringankan beban pelaku usaha yang terdampak kenaikan biaya bahan baku.

Selain mengendalikan inflasi, kegiatan aksi peduli tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengantisipasi dampak El Nino yang berpotensi memicu kekeringan dan mengganggu produktivitas pertanian.

Pemerintah memberikan sejumlah bantuan, di antaranya beras, sarana perpipaan, serta rumah burung hantu bagi petani. Bantuan sarana perpipaan diharapkan mendukung pengelolaan air untuk pertanian, sedangkan rumah burung hantu dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengendalian hama secara alami.

Luthfi mengatakan, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga produktivitas pangan di Jawa Tengah, terutama ketika petani menghadapi tantangan perubahan cuaca.

Berdasarkan data yang disampaikan, produksi padi Jawa Tengah selama periode Januari–Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG), setara dengan sekitar 4,9 juta ton beras.

Sementara itu, produksi cabai diperkirakan mencapai 404,91 ribu ton dan bawang merah sebanyak 408,76 ribu ton.

Menurut Luthfi, capaian produksi tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan pola tanam dan langkah antisipatif agar pasokan pangan tetap terjaga di tengah potensi kekeringan.

“Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif, dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu-hilir,” ungkapnya.

Ia berharap, sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, petani, dan pelaku usaha dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga pasokan serta kestabilan harga pangan di Jawa Tengah.

Program gerakan pangan murah tersebut mendapat respons positif dari pelaku usaha kecil yang selama ini merasakan dampak kenaikan harga bahan baku.

Joko, seorang pedagang nasi goreng, mengaku terbantu karena dapat membeli cabai dengan harga lebih rendah dibandingkan harga yang biasa ia temui di pasaran.

Ia mengatakan, kenaikan harga cabai dalam dua pekan terakhir cukup memengaruhi biaya produksi dan omzet penjualan nasi gorengnya.

“Ini baru beli cabai 3 kg. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk buat sambal saya butuh 5 kg untuk satu minggu. Sangat membantu sekali,” ujarnya.

Menurut Joko, selisih harga tersebut memberikan ruang bagi pedagang kecil untuk menekan biaya produksi tanpa harus segera menaikkan harga jual kepada pelanggan.

Manfaat serupa dirasakan Dari, seorang pengusaha katering yang mengaku terbantu dengan tersedianya bahan pangan berharga lebih murah melalui program tersebut.

Ia menyebutkan, harga beras yang di pasaran biasanya mencapai Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram dapat diperoleh dengan harga Rp11.000 per kilogram dalam kegiatan pangan murah tersebut.

Harga cabai yang lebih rendah juga membantu mengurangi beban biaya produksi usaha kateringnya.

Dari menjelaskan, kenaikan harga bahan pokok menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha makanan. Pasalnya, menaikkan harga jual bukan perkara mudah karena berisiko membuat pelanggan beralih ke penyedia jasa lain.

“Kenaikan harga bahan pokok sangat berpengaruh untuk usaha katering kami. Kalau kita naikkan harga, pelanggan tidak mungkin, karena pelanggan bisa lari. Jadi program ini sangat membantu. Yang berpengaruh bagi kami itu harga ayam dan beras,” ujarnya.

Melalui gerakan pangan murah dan pemberian bantuan pertanian, Pemprov Jawa Tengah bersama Bank Indonesia berupaya menjaga keterjangkauan bahan pokok sekaligus mendukung keberlangsungan usaha masyarakat.

Kolaborasi dari hulu hingga hilir tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan pangan, mengantisipasi dampak kekeringan, serta mendukung pengendalian inflasi di Jawa Tengah.

Reporter: Ery

Editor: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini