INAPOS, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8 persen pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026) hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Di tengah gejolak pasar modal tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI, Fathi, mengimbau investor agar tidak bereaksi berlebihan terhadap wacana penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Fathi menilai perkembangan terkait MSCI perlu disikapi secara proporsional. Pasalnya, langkah yang diumumkan lembaga penyedia indeks global tersebut masih berada pada tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.
Menurutnya, gejolak di pasar saham saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen serta kekhawatiran investor, bukan keputusan final yang telah ditetapkan.
“Saya memahami kekhawatiran investor. Tapi kita perlu melihat duduk perkaranya dengan jernih. Yang diumumkan MSCI adalah konsultasi, bukan keputusan. Keputusan akhirnya baru ditargetkan pertengahan 2027. Masih ada waktu cukup panjang untuk berbenah, dan kita tidak boleh menjual dalam kepanikan atas sesuatu yang belum terjadi,” kata Fathi dalam rilis media di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Ia mengakui koreksi tajam IHSG menjadi ujian serius bagi kredibilitas pasar modal nasional. Namun, menurutnya, mekanisme trading halt yang diterapkan BEI merupakan bagian dari perlindungan pasar untuk meredam kepanikan sesaat.
“Trading halt memang dibuat untuk meredam kepanikan sesaat dan memberi waktu kepada pelaku pasar mencerna informasi secara lebih rasional. Hari ini mekanisme itu bekerja sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Fathi menjelaskan, sorotan MSCI terhadap pasar modal Indonesia mencakup sejumlah aspek mendasar, mulai dari transparansi kepemilikan saham, aksesibilitas pasar bagi investor, hingga konsistensi penegakan regulasi.
Karena itu, ia menilai perhatian MSCI seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat reformasi tata kelola pasar modal, bukan dianggap sebagai vonis terhadap kualitas pasar saham Indonesia.
“Ini peringatan keras, sekaligus kesempatan membuktikan bahwa pasar modal Indonesia serius membenahi tata kelolanya,” tegasnya.
Komisi XI DPR RI pun meminta otoritas pasar modal bergerak cepat sebelum agenda peninjauan indeks MSCI berikutnya pada November 2026. Fathi menekankan setidaknya ada tiga langkah mendesak yang perlu dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor.
Pertama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI diminta mempercepat pelaksanaan reformasi yang telah diumumkan kepada publik. Langkah tersebut meliputi peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, perincian klasifikasi investor, serta penyusunan peta jalan penerapan ketentuan free float minimum 15 persen.
“Kemajuan reformasi itu harus terlihat nyata dan terukur. Pasar serta investor global perlu melihat bahwa Indonesia tidak hanya membuat rencana, tetapi benar-benar menjalankannya,” kata Fathi.
Kedua, ia mendorong penguatan komunikasi publik oleh pemerintah dan otoritas terkait. Menurutnya, minimnya informasi resmi dapat memperbesar gejolak pasar karena ruang informasi tersebut berpotensi dipenuhi spekulasi yang belum terverifikasi.
“Pemerintah, OJK, dan BEI harus aktif menjelaskan perkembangan yang terjadi. Komunikasi yang terbuka akan membantu mengembalikan kepercayaan investor,” ujarnya.
Ketiga, Fathi menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. OJK, BEI, Bank Indonesia, dan pemerintah dinilai perlu menyelaraskan langkah guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap pasar saham maupun nilai tukar rupiah.
Di tengah tekanan pasar, Fathi memastikan Komisi XI DPR RI akan mengawal proses pembenahan melalui fungsi pengawasan. Ia menegaskan, perbaikan tata kelola pasar modal harus menjadi prioritas agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang kompetitif di kawasan.
“Komisi XI akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan langkah-langkah perbaikan ini berjalan dengan serius dan terukur,” katanya.
Fathi juga mengingatkan investor, khususnya investor ritel yang turut mendorong pertumbuhan pasar modal domestik dalam beberapa tahun terakhir, agar tidak mengambil keputusan secara emosional di tengah volatilitas yang tinggi.
Ia mengimbau investor untuk mengutamakan informasi resmi, mempertimbangkan risiko, serta mengambil keputusan investasi secara matang.
“Saya mengajak investor untuk tetap rasional, tidak terpancing kepanikan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi resmi serta pertimbangan yang matang,” tutup politikus Fraksi Partai Demokrat tersebut.
Reporter: Agus
Editor: Redaksi








