Singgih Januratmoko Apresiasi Pemindahan Slot Penerbangan Haji, Tapi Ingatkan Risiko Kesehatan Jemaah
INAPOS, JAKARTA.- Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, memberikan apresiasi terhadap langkah Kementerian Agama dan maskapai Garuda Indonesia yang memindahkan 36 slot penerbangan pemulangan jemaah haji dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah ke Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah.
Kebijakan ini diambil lantaran Garuda tidak memperoleh slot parkir pesawat di Bandara Jeddah.
Menurut Singgih, keputusan ini mempertimbangkan kepadatan lalu lintas udara di Bandara Jeddah selama masa puncak pemulangan haji, serta menjadi langkah optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Bandara Madinah.
Selain itu, kebijakan ini juga dinilai dapat membantu mendistribusikan beban operasional secara lebih merata antara maskapai dan petugas haji.
“Kami mengapresiasi langkah cepat ini sebagai bentuk respons atas tantangan operasional di lapangan,” ujar politisi Fraksi Partai Golkar tersebut dalam keterangannya, Jumat (25/4/25).
Namun demikian, Singgih juga memberikan sejumlah catatan penting. Ia menyoroti potensi dampak kesehatan akibat perjalanan darat dari Jeddah ke Madinah yang berjarak sekitar 430 kilometer. Perjalanan jauh di tengah cuaca ekstrem dinilai bisa memicu dehidrasi dan kelelahan, khususnya bagi jemaah lansia.
“Perjalanan darat Jeddah-Madinah kadang disertai suhu tinggi yang dapat membahayakan kesehatan jemaah. Aspek ini perlu menjadi perhatian khusus,” tegasnya.
Selain itu, Singgih juga menyoroti keterbatasan fasilitas di Bandara Madinah yang dinilai belum sebanding dengan Bandara Jeddah, khususnya dalam pelayanan bagi jemaah berkebutuhan khusus serta sistem ground handling yang dinilai belum optimal dan bisa menyebabkan keterlambatan penerbangan.
Ia menegaskan bahwa kebijakan pemindahan slot penerbangan ini tidak boleh menimbulkan beban tambahan bagi jemaah, baik dari segi biaya maupun penurunan kualitas pelayanan maskapai.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, Singgih mendorong agar Kementerian Agama melakukan pemetaan ulang rute penerbangan haji dengan skema pembagian 50:50 antara Jeddah dan Madinah dalam Rencana Penyelenggaraan Haji (RPH).
“Perencanaan sejak awal akan membantu menghindari penumpukan beban di satu titik dan meningkatkan efisiensi layanan,” jelasnya.
Ia juga mengimbau Kementerian Agama untuk memperkuat koordinasi dengan otoritas penerbangan Arab Saudi guna memastikan standar layanan yang setara di kedua bandara, demi menjamin kenyamanan dan keselamatan seluruh jemaah haji Indonesia.
Editor: Redaksi Inapos
