Kamis, April 16, 2026

Kepala BBWS Cimancis, Dwi Agus Kuncoro saat memaparkan strategi hadapi musim kemarau panjang. Foto: Kris
DaerahPemerintah

Antisipasi Kemarau Panjang 2026, BBWS Cimancis Siapkan Pompa Tenaga Surya untuk Bantu Petani

INAPOS, KOTA CIREBON.– Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS Cimancis) mulai mengantisipasi potensi kekeringan yang diprediksi terjadi lebih awal pada tahun 2026.

Berbagai langkah strategis disiapkan, salah satunya dengan menambah pompa air bertenaga surya guna membantu petani memenuhi kebutuhan air saat puncak musim kemarau.

Kepala BBWS Cimancis, Dwi Agus Kuncoro, mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya kemarau mulai terasa pada akhir Juni, pada 2026 diprediksi sudah mulai terjadi sejak April.

“Biasanya kemarau mulai akhir Juni, tetapi sekarang diperkirakan sudah maju menjadi sekitar April dan berlangsung lebih panjang. Karena itu kami harus mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini,” ujar Dwi Agus pada Kamis (12/3/26).

Menurutnya, salah satu solusi yang disiapkan adalah penggunaan pompa kekeringan bertenaga surya. Pompa tersebut akan dipinjamkan secara gratis kepada para petani yang membutuhkan, khususnya di wilayah persawahan dengan elevasi lebih rendah sehingga sulit mendapatkan pasokan air secara alami.

“Pompa ini kami pinjamkan gratis kepada petani. Mereka hanya diminta menjaga peralatan tersebut agar tidak rusak atau hilang. Biasanya peminjaman berlangsung sekitar dua minggu, setelah itu dipindahkan ke lokasi lain yang juga membutuhkan,” jelasnya.

Saat ini BBWS Cimancis baru memiliki tiga unit pompa tenaga surya. Ke depan, pihaknya berencana memperbanyak jumlahnya agar dapat menjangkau lebih banyak daerah irigasi yang berpotensi mengalami kekeringan.

Dwi Agus menambahkan, idealnya setiap daerah irigasi memiliki minimal tiga unit pompa. Dengan jumlah daerah irigasi sekitar 88 titik, kebutuhan pompa diperkirakan mencapai puluhan unit agar penanganan kekeringan dapat lebih optimal.

“Kalau setiap daerah irigasi minimal ada tiga pompa, maka peluang membantu petani saat puncak kemarau akan jauh lebih besar,” katanya.

Selain pompa, BBWS Cimancis juga mengandalkan embung serta bendungan untuk menjaga ketersediaan air. Namun, embung biasanya hanya mampu mencukupi kebutuhan air untuk satu musim tanam, sehingga pada musim tanam berikutnya perlu didukung sumber air lain yang lebih besar.

Beberapa wilayah yang dinilai masih rawan kekeringan antara lain daerah hilir di Kabupaten Majalengka serta wilayah Cirebon Timur. Daerah tersebut dinilai belum sepenuhnya terlayani oleh jaringan bendungan besar sehingga pasokan air sering terbatas saat musim kemarau.

Di wilayah tersebut, upaya alternatif seperti pembuatan sumur juga dilakukan. Namun tidak semua sumur menghasilkan air tawar karena sebagian wilayah memiliki kandungan air yang cenderung asin.

“Karena itu kami memanfaatkan sumur dengan kedalaman sekitar 10 meter yang airnya masih layak, lalu dipompa menggunakan pompa tenaga surya agar tetap bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian,” ujarnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, BBWS Cimancis berharap kebutuhan air bagi petani tetap dapat terpenuhi meskipun musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang pada 2026.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

61 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *