INAPOS, KOTA CIREBON.- Keraton Kasepuhan Cirebon kembali melestarikan tradisi Apeman sebagai pembuka rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2026. Tradisi yang digelar di Langgar Alit Keraton Kasepuhan, Sabtu (1/8/2026), berlangsung khidmat dan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar masyarakat senantiasa mendapat perlindungan dari segala marabahaya.
Prosesi tersebut dihadiri Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon P.R. Goemelar Soeryadiningrat, Patih Anom P.R. Nusantara, Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kyai Jumhur, para abdi dalem, serta masyarakat yang turut mengikuti jalannya tradisi.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon P.R. Goemelar Soeryadiningrat menjelaskan, tradisi Apeman merupakan awal dari rangkaian panjang peringatan Maulid Nabi yang dimulai sejak bulan Safar hingga mencapai puncaknya pada bulan Mulud.
“Tradisi Apeman menjadi pembuka rangkaian peringatan Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan. Setelah ini masih ada sejumlah tradisi yang akan dilaksanakan, di antaranya Bekasem Ikan pada 5 Safar yang nantinya dibuka kembali pada 5 Mulud bersamaan dengan rangkaian Siraman Panjang,” ujarnya.
Ia menerangkan, Siraman Panjang merupakan prosesi pencucian benda-benda pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang menjadi salah satu tradisi penting menjelang puncak peringatan Maulid Nabi.
Selain itu, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar tradisi Gerbuan atau pelaburan tembok menggunakan tanah merah di kawasan Siti Inggil dan lingkungan Keraton Pakungwati. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian bangunan bersejarah yang menjadi warisan budaya Cirebon.
Menurut Goemelar, puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan dijadwalkan berlangsung pada 12 Mulud atau bertepatan dengan 26 Agustus 2026.
“Seluruh rangkaian ini merupakan warisan budaya yang terus dijaga oleh Keraton Kasepuhan agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Ia menambahkan, tradisi Apeman memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah dan senantiasa memperoleh keselamatan.
“Makna Apeman adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Bersama-sama kita berdoa memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan segala marabahaya. Tradisi ini juga menjadi pengingat agar kita selalu mendekatkan diri kepada Allah,” tuturnya.
Tak hanya itu, pada bulan Safar mendatang Keraton Kasepuhan juga akan menggelar tradisi Rebo Wekasan yang diperkirakan berlangsung pada 13 Agustus 2026. Dalam tradisi tersebut, keraton akan berbagi rezeki kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah, kepedulian sosial, dan mempererat kebersamaan.
“Nanti pada Rebo Wekasan kami juga akan berbagi kepada masyarakat. Tradisi ini merupakan bentuk sedekah dan kebersamaan yang sejak dahulu menjadi bagian dari budaya Keraton Kasepuhan,” pungkasnya.
Reporter: Kris
Editor: Redaksi







