Rabu, April 29, 2026

Ilustrasi AI.
DaerahHeadlineNasional

Calo Karyawan Dipelihara? Pabrik Sepatu Raksasa Cirebon Timur Diduga Betah Memakai ‘Jasa Dalam’

Calo Karyawan Dipelihara? Pabrik Sepatu Raksasa Cirebon Timur Diduga Betah Memakai ‘Jasa Dalam’

Inapos.id, Kab. Cirebon – Praktik percaloan tenaga kerja yang sempat mencuat beberapa bulan lalu rupanya belum benar-benar hilang dari salah satu perusahaan sepatu terbesar di Cirebon Timur. Alih-alih bersih dari oknum calo, justru terkuak bahwa pelaku masih bekerja di perusahaan tersebut, seolah keberadaannya “dipelihara” dan tidak memberi efek jera bagi pelaku lainnya.

Kasus ini kembali mengemuka setelah seorang pemuda asal Cirebon, RM, menjadi korban transaksi online ketenagakerjaan ketika hendak melamar kerja di Perusahaan sepatu terbesar di Cirebon Timur, pada Selasa (26/8/2025). RM menghubungi temannya untuk menanyakan cara melamar, dan temannya itu kemudian memberikan kontak seseorang bernama AI melalui WhatsApp.

Dari komunikasi itulah, dugaan praktik percaloan terjadi. RM yang belum bekerja menyetujui syarat AI: jika ingin masuk ke perusahaan tersebut harus membayar Rp3 juta, dengan uang muka Rp1,5 juta. Uang itu dikirimkan RM secara online, dengan perjanjian jika dalam satu bulan tidak ada panggilan, maka uang dikembalikan.

Namun batas waktu berlalu tanpa panggilan kerja maupun pengembalian uang. Hingga berbulan-bulan kemudian, RM dan keluarganya terus menagih, namun tak kunjung mendapat kejelasan.

RM akhirnya meminta bantuan sepupunya, Didin, untuk mengambil uang tersebut.

“Tolong ambil uang saya yang ada di AI, sudah beberapa bulan belum dikembalikan. Jika belum ada uangnya, minta jaminan. Dari perjanjian yang disepakati harusnya satu bulan belum ada panggilan uangnya akan dikembalikan. Ini sudah masuk November,” kata RM kepada Didin.

Didin kemudian menghubungi AI untuk bertemu dan menyelesaikan masalah secara baik-baik. Namun respons AI dinilai kurang kooperatif. Hal itu membuat Didin geram dan mengancam akan melaporkan AI ke kepolisian atas dugaan penipuan.

“Setelah saya bertanya kapan uang akan dikembalikannya? Jika dalam tiga hari belum ada kepastian, saya tidak akan ada toleransi lagi dan saya akan laporkan ke kepolisian,” ujar Didin melalui pesan WA.

Pada pertengahan November, AI akhirnya mengembalikan Rp500 ribu. Namun sisanya tidak jelas kapan dibayar. Didin lalu meminta temannya menghubungi pihak humas perusahaan.

Humas perusahaan, Dodi, mengatakan pihaknya akan menelusuri dan memanggil pelaku karena praktik tersebut tidak sesuai aturan perusahaan.

“Kami akan memanggilnya, karena tidak sesuai peraturan perusahaan,” ujarnya dalam pesan WA.

Setelah pemanggilan, Dodi memberi kabar bahwa pelaku akan mengembalikan uang pada 10 Desember 2025. Pada Selasa (9/12/2025) malam, AI mengirim Rp1 juta kepada RM.

Namun fakta lain terungkap AI berani melakukan praktik percaloan karena merasa memiliki “beking”, berdasarkan informasi yang didapat, kakak dari AI adalah HR salah satu brand sepatu. Meski sudah terbukti melanggar aturan, status AI justru masih bekerja di perusahaan.

“Dari hasil penelusuran, kabarnya AI ini tidak sendiri. Ia bekerjasama dengan seorang HR yang informasinya adalah Kakaknya sendiri,” ujar Didin. Pada Rabu (10/12/2025)

Situasi ini memunculkan tanda tanya besar, apakah perusahaan benar-benar ingin menindak tegas praktik percaloan, atau justru membiarkan oknum-oknum ini tetap hidup karena dianggap “aset” yang menguntungkan?.

Hingga kini, tidak ada informasi mengenai sanksi tegas bagi pelaku maupun upaya struktural perusahaan untuk memberantas praktik serupa. Keberadaan calo yang masih nyaman bekerja di pabrik justru memunculkan dugaan bahwa masalah ini tidak berdiri sendiri.

51 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *