INAPOS, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng Lembaga Sains Terapan Universitas Indonesia (UI) untuk mengantisipasi risiko pencemaran lingkungan akibat limbah baterai bekas kendaraan listrik. Kolaborasi ini dilakukan melalui kajian pengelolaan limbah baterai guna menyiapkan kebijakan yang aman dan berkelanjutan.
Kajian yang disusun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta tersebut menjadi langkah antisipasi seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Selain melindungi masyarakat dan lingkungan, pengelolaan yang tepat juga diharapkan membuka peluang pemanfaatan kembali material berharga yang terkandung dalam baterai bekas.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan pengelolaan limbah baterai perlu direncanakan sejak dini, mulai dari proses pengumpulan hingga pengolahan.
Menurutnya, perkembangan kendaraan listrik harus diimbangi dengan sistem pengelolaan limbah yang aman agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
“Melalui kajian yang dilakukan bersama Lembaga Sains Terapan Universitas Indonesia, Pemprov DKI berupaya memperkuat perencanaan pengelolaan limbah baterai agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar Dudi, Kamis (29/10/2026).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH DKI Jakarta, Dedy Setiono, menjelaskan bahwa Jakarta merupakan salah satu pusat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Ia menyebutkan, jumlah Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Jakarta tercatat mencapai 55.240 unit pada 2023, atau sekitar 68 persen dari total nasional.
“Semakin banyak kendaraan listrik yang digunakan, semakin besar pula potensi baterai bekas yang harus dikelola,” kata Dedy.
Karena itu, kajian tersebut diperlukan untuk merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan yang tepat, sehingga potensi pencemaran akibat baterai bekas dapat dicegah sejak awal.
Di sisi lain, pengelolaan yang baik juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan kembali material yang masih bernilai ekonomis untuk mendukung ketersediaan bahan baku baterai.
“Pengelolaan yang baik juga membuka peluang pemanfaatan material dari baterai bekas untuk mendukung ketersediaan bahan baku baterai,” ucapnya.
Koordinator Pokja Perpindahan Lintas Batas Limbah dan Konvensi Kementerian Lingkungan Hidup, Amelia Rachmatunisa, menekankan bahwa material bernilai yang terkandung dalam limbah baterai dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tepat.
Namun, pemanfaatan tersebut harus tetap memperhatikan ketentuan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) agar tidak menimbulkan risiko bagi manusia maupun lingkungan.
“Kami mendorong agar limbah yang dihasilkan dapat menjadi sumber daya baru. Karena itu, penimbunan di landfill sebisa mungkin dihindari dengan mengutamakan pemanfaatan dan pengolahan,” ungkap Amelia.
Upaya pemanfaatan kembali material baterai dinilai dapat mendukung pengurangan limbah sekaligus membuka peluang pemulihan bahan baku yang masih dapat digunakan.
Selain pemulihan material, baterai bekas kendaraan listrik juga berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan lain setelah melalui pemeriksaan dan penilaian kelayakan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE Kementerian ESDM, Slamet, mengatakan baterai bekas masih berpeluang memperoleh masa pakai kedua atau second life.
Pemanfaatan tersebut antara lain sebagai perangkat penyimpan energi maupun sumber tenaga untuk kendaraan berkecepatan rendah, seperti forklift.
“Baterai tersebut dapat memperoleh masa pakai kedua atau second life, antara lain sebagai penyimpan energi dan sumber tenaga untuk kendaraan berkecepatan rendah seperti forklift. Agar pengelolaannya berjalan baik, sistem pengumpulan baterai bekas juga perlu disiapkan,” tandas Slamet.
Melalui kajian bersama Universitas Indonesia dan koordinasi lintas kementerian, Pemprov DKI Jakarta berupaya menyiapkan sistem pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik secara terencana.
Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko pencemaran, mengoptimalkan pemanfaatan material yang masih bernilai, serta mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan di Jakarta.
Reporter: Agus
Editor: Redaksi








