
INAPOS, KUNINGAN – Kabut tipis perlahan menyelimuti kawasan Puncak, di Desa Pucuk, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Di tengah udara sejuk lereng Gunung Ciremai, aroma manis dan fruity dari buah kopi yang ranum seolah menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang tengah tumbuh di balik hamparan hijau perkebunan.
Di ketinggian 750 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), kopi Kuningan kembali menemukan jalan menuju kejayaannya.
Bukan sekadar komoditas pertanian, kopi yang tumbuh di lereng Ciremai kini menjelma menjadi specialty coffee yang mampu menembus pasar internasional. Jepang, Thailand hingga Amerika Serikat menjadi bagian dari perjalanan panjang kopi lokal Kuningan menuju panggung dunia.
Kebangkitan itu salah satunya digerakkan oleh Robi Taufik, pengelola Kopi Botanika sekaligus Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah. Sejak 2022, Robi mulai serius menghidupkan kembali budidaya kopi yang sebelumnya sempat meredup.
Langkah tersebut dimulai dengan menanam sekitar 10.000 pohon kopi di lahan seluas 16 hektare. Tak berhenti di sana, kelompok tani juga membangun kemitraan dengan petani lokal yang mengelola lahan sekitar 25 hektare.
Perlahan, kerja keras itu mulai menunjukkan hasil. Produksi kopi kini mencapai sekitar 20 hingga 25 ton cherry kopi per tahun.
“Cenderung kopinya lebih manis, smooth, dan fruity-nya khas gaya Arabika,” ujar Robi saat menceritakan karakter kopi yang dikembangkan di kawasan tersebut kepada media pada Kamis (10/9/26).
Dari keseluruhan produksi, kata Robi, sekitar 70 persen merupakan kopi Arabika. Proses panennya pun dilakukan dengan standar yang ketat, yakni mengutamakan buah kopi matang atau petik merah.
Bagi Robi, kualitas bukan sekadar persoalan rasa. Setiap tahapan, mulai dari budidaya, pemetikan hingga pengolahan, menjadi bagian penting untuk menjaga karakter kopi agar tetap konsisten.
Kualitas tersebut ikut mendongkrak nilai ekonomi kopi Kuningan. Biji kopi mentah atau green bean Arabika petik merah kini dapat dihargai sekitar Rp170 ribu per kilogram.
Sementara itu, green bean Robusta berada pada kisaran Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Nilai tersebut turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar perkebunan. Jika sebelumnya aktivitas budidaya kopi hanya melibatkan sekitar lima hingga 10 orang, kini jumlah petani yang terlibat telah berkembang menjadi hampir 30 petani.
Artinya, kebangkitan kopi bukan hanya tentang bagaimana sebuah produk lokal menembus pasar luar negeri, tetapi juga bagaimana nilai tambahnya kembali dirasakan oleh masyarakat di daerah penghasil.
Di balik perjalanan itu, ada pula dukungan dan pendampingan dari Bank Indonesia (BI) yang dilakukan dari sektor hulu hingga hilir.
Pendampingan tidak hanya menyentuh sarana produksi, tetapi juga penguatan kualitas dan kapasitas petani. Salah satu indikator keberhasilannya terlihat dari cupping score di atas 80, yang menjadi salah satu penanda bahwa kopi tersebut telah masuk kategori specialty coffee.
Kopi Buana Ciremai berhasil melewati proses kurasi untuk tampil dalam ajang World of Coffee di Bangkok, Thailand. Kopi binaan tersebut bahkan harus bersaing dengan produk dari puluhan kantor perwakilan BI di berbagai daerah di Indonesia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian tersebut.
“Ini indikator bahwa kualitas kopi kita tidak kalah dengan daerah lain,” tegas Wihujeng.
Kini, kopi dari lereng Ciremai tidak lagi hanya dinikmati masyarakat sekitar. Pasarnya telah menjangkau hampir seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sebagian produknya telah diperkenalkan ke pasar mancanegara seperti Jepang, Thailand dan Amerika Serikat.
Namun, bagi Robi, perjalanan tersebut belum selesai. Dalam satu hingga dua tahun mendatang, ia berencana mengembangkan sektor edukasi kopi. Perkebunan tidak hanya diharapkan menjadi tempat produksi, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh perjalanan secangkir kopi, mulai dari tanaman, proses panen, pengolahan hingga penyajiannya.
Rencana itu menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem kopi di Kuningan.
Di Puncak Cigugur, daun-daun kopi yang bergoyang diterpa angin lereng Ciremai kini menyimpan cerita berbeda. Ia bukan lagi sekadar hamparan hijau di kaki gunung.
Di balik setiap buah kopi yang dipetik merah, ada kerja keras petani. Di balik setiap cangkir yang diseduh, ada proses panjang menjaga kualitas. Dan di balik perjalanan kopi Kuningan menuju pasar dunia, tersimpan harapan agar kejayaan komoditas lokal itu dapat kembali hidup dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Dari lereng Ciremai, kopi Kuningan perlahan membuktikan bahwa produk lokal pun mampu berbicara di panggung dunia.
Reporter: Kris
Editor: Redaksi







