Jumat, April 17, 2026

Suasana kegiatan konsinyering OJK bersama Kementerian dan pelaku industri TPT di Jakarta. Hms
Ekonomi dan BisnisNasional

OJK Dorong Penguatan Pembiayaan Berkelanjutan untuk Industri TPT, Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional

INAPOS, JAKARTA.- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor riil, salah satunya melalui penguatan pembiayaan berkelanjutan bagi sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

Sektor ini dinilai sebagai salah satu pilar penting dalam mendukung transformasi ekonomi nasional yang inklusif dan berdaya saing global.

Dalam rangka memperkuat ekosistem pembiayaan industri TPT, OJK menyelenggarakan kegiatan konsinyering pada Jumat (16/5) di Jakarta.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga strategis seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, serta Badan Kebijakan Fiskal. Selain itu, turut hadir perwakilan industri perbankan dan pelaku industri TPT.

Konsinyering ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI dalam Sarasehan Ekonomi Nasional dan implementasi Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang RPJPN 2025–2045 yang menempatkan sektor TPT sebagai prioritas transformasi ekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri TPT yang tangguh. Ia menyebutkan bahwa tantangan struktural seperti tingginya biaya logistik dan ketergantungan pada pasar ekspor tertentu harus segera diatasi melalui pendekatan Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pelaku industri, perbankan, BUMN, dan pemerintah.

“Industri TPT memiliki potensi besar, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Namun, perlu ada langkah konkret untuk diversifikasi pasar ekspor dan menekan biaya logistik agar bisa bersaing dengan negara lain,” ujar Dian.

Dian juga menyoroti pentingnya peran sektor jasa keuangan, terutama perbankan, sebagai enabler dalam memperkuat struktur pembiayaan industri TPT. Ia menekankan bahwa penyaluran pembiayaan harus lebih tepat sasaran dan didukung manajemen risiko yang kuat.

Hingga Maret 2025, total kredit perbankan kepada industri TPT dan alas kaki tercatat mencapai Rp160,41 triliun, atau 2,03 persen dari total kredit nasional. Sementara itu, kontribusi sektor ini terhadap penyerapan tenaga kerja pada 2024 mencapai 4 juta orang, atau 32,79 persen dari total tenaga kerja industri padat karya.

Pertumbuhan industri TPT juga menunjukkan tren positif, dengan peningkatan sebesar 4,64 persen secara year on year (YoY) pada Maret 2025.

Diskusi ini juga mengungkap bahwa minat investasi asing di sektor TPT masih tinggi, tercermin dari kenaikan Penanaman Modal Asing (PMA) setiap tahunnya. Pemerintah pun telah menggulirkan berbagai insentif seperti restrukturisasi mesin produksi, penguatan rantai pasok, ketersediaan bahan baku, insentif fiskal, hingga subsidi listrik.

Para pelaku industri berharap adanya kebijakan terintegrasi yang memberikan kepastian regulasi, termasuk soal bea masuk impor, perizinan AMDAL yang transparan, pengawasan impor pakaian jadi, serta skema pembiayaan murah dan pelatihan tenaga kerja.

Penguatan ekosistem hulu-hilir, pemanfaatan energi ramah lingkungan, peningkatan TKDN, dan ekonomi sirkular juga menjadi prioritas.

OJK berharap hasil diskusi ini dapat menjadi pijakan dalam merumuskan rekomendasi kebijakan konkret yang memperkuat daya saing dan keberlanjutan industri TPT sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Reporter: Zaenal

Editor: Redaksi Inapos 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *