Jumat, April 17, 2026

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi Terboyo dan Sriwulan di Kota Semarang. Ery
Sosial

Tinjau Proyek Kolam Retensi dan Tanggul Laut, Gubernur Jateng Pastikan Penanganan Rob dan Banjir Terus Dikebut

INAPOS, SEMARANG.- Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi Terboyo dan Sriwulan di Kota Semarang, Selasa (27/5/25), sebagai bagian dari upaya terpadu penanggulangan rob dan banjir di wilayah Pantura.

Dalam kunjungannya, Gubernur Luthfi menjelaskan bahwa kolam retensi Terboyo memiliki luas hampir 189 hektare dan mampu menampung hingga 6 juta meter kubik air.

Sementara itu, kolam retensi Sriwulan seluas 28 hektare dapat menampung lebih dari 1 juta meter kubik air. Kedua kolam tersebut dipisahkan oleh Kali Babon dan dilengkapi rumah pompa untuk mengalirkan air langsung ke laut.

“Dengan penyiapan jangka panjang seperti ini, kolam retensi cukup untuk meng-cover terjadinya rob atau banjir yang kerap melanda kawasan ini,” ujar Luthfi.

Pembangunan kolam retensi ini terintegrasi dengan proyek tol Semarang-Demak tahap 1, khususnya pada seksi 1C yang berfungsi sebagai tanggul laut raksasa (giant sea wall). Berdasarkan laporan, progres fisik seksi 1A telah mencapai 62,98% dan ditargetkan selesai pada Juli 2026.

Sedangkan seksi 1B mencapai 40,93% (selesai April 2027) dan seksi 1C baru 25,97% (selesai September 2026). Ditargetkan, pada Januari 2026 tanggul laut ini sudah bisa difungsikan meski belum dioperasionalkan penuh sebagai jalan tol.

“Minimal kalau fungsional ini sudah bisa menahan rob. Ini bentuk nyata kehadiran negara dalam pelayanan publik,” tegas Luthfi.

Langkah Jangka Pendek dan Menengah Disiapkan

Sembari menunggu proyek rampung, Pemprov Jateng telah menyiapkan berbagai langkah jangka pendek dan menengah. Salah satunya adalah asistensi kepada wilayah terdampak seperti Demak dan Semarang melalui dinas-dinas teknis, serta edukasi kepada masyarakat untuk beradaptasi terhadap kondisi penurunan muka tanah yang signifikan, mencapai 8–14 cm per tahun.

“Penyesuaian ini penting, karena kondisi geografis wilayah Pantura Jawa Tengah yang terus menurun. Kita harus kerja bersama, tidak bisa parsial,” ungkapnya.

Selain itu, titik genangan air tinggi di jalur Pantura, khususnya di depan pabrik Polytron, juga menjadi perhatian serius. Meski sempat ditinggikan, area tersebut kembali tergenang. Untuk itu, normalisasi Sungai Pelayaran di dekat lokasi menjadi prioritas dalam penanganan jangka pendek.

Pemenuhan Kebutuhan Warga Terdampak

Wakil Gubernur Taj Yasin menambahkan, pemerintah daerah juga tengah menyiapkan solusi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak, seperti ketersediaan air bersih.

“Masyarakat di wilayah Sayung misalnya, akan dibantu dengan fasilitas desalinasi. Bahkan rumah apung mulai kita bahas dan siapkan untuk solusi jangka panjang,” pungkas Taj Yasin.

Reporter: Ery

Editor: Redaksi Inapos 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *