Selasa, April 21, 2026

Tradisi Ruwahan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Kris
DaerahSeni dan Budaya

Tradisi Rowahan di Keraton Kasepuhan Cirebon, Doa Leluhur dan Jejak Spiritual Sambut Ramadan

INAPOS, KOTA CIREBON.- Suasana khidmat menyelimuti Pungkuran Bangsal Keraton Kasepuhan Cirebon saat tradisi Rowahan digelar untuk memperingati Nisfu Syaban, Selasa (3/2/26).

Tradisi tahunan ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi momen spiritual penuh makna bagi keluarga keraton dan masyarakat Cirebon.

Tradisi Rowahan telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus laku batin masyarakat pesisir Cirebon. Dalam suasana yang tenang dan sarat doa, para abdi dalem dan keluarga keraton bersama-sama memanjatkan doa bagi para leluhur.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menegaskan bahwa Nisfu Syaban atau yang dikenal masyarakat sebagai bulan Rowah selalu menjadi momentum penting setiap tahunnya.

“Tadi kita mendengarkan makna peringatan Nisfu Syaban yang disebut juga bulan Rowah. Ini tradisi yang dari dulu dijalankan oleh Keraton Kasepuhan Cirebon,” ujarnya.

Menurutnya, bulan Rowah memiliki makna mendalam karena menjadi waktu untuk mendoakan arwah keluarga dan leluhur yang telah wafat. Selain itu, dalam ajaran Islam, malam Nisfu Syaban juga diyakini sebagai momen pencatatan dan pelaporan amal manusia kepada Allah SWT.

“Di bulan ini kita mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia. Tadi juga disampaikan oleh Kiai Jumbur bahwa catatan amal kita akan dilaporkan kepada Allah SWT,” jelasnya.

Rangkaian bulan penuh keberkahan ini, lanjutnya, dimulai sejak Rajab dengan peristiwa Isra Mi’raj, kemudian berlanjut ke Nisfu Syaban, hingga puncaknya di bulan suci Ramadan.

“Ini memang satu rangkaian bulan yang penuh keberkahan dan ampunan, apalagi nanti di bulan suci Ramadan,” katanya.

Di kalangan masyarakat Cirebon, istilah Rowahan lebih akrab dibanding Nisfu Syaban. Tradisi ini identik dengan doa bersama untuk arwah leluhur serta penguatan nilai spiritual menjelang Ramadan.

Tak hanya itu, Keraton Kasepuhan juga bersiap menggelar tradisi Dlugdag, yakni pemukulan bedug sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Namun pelaksanaannya tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama.

“Biasanya tradisi memukul bedug dilakukan pada bada Asar sebagai tanda masuk bulan suci Ramadan. Itu pun menunggu keputusan pemerintah agar tidak terjadi kebingungan di masyarakat,” ungkap Pangeran Raja Goemelar.

Melalui pelestarian tradisi Rowahan dan Dlugdag, Keraton Kasepuhan berharap masyarakat terus menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ibadah.

Momentum ini menjadi pengingat untuk meningkatkan kualitas salat, memperbanyak doa, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang datangnya Ramadan.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

60 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *