Sabtu, April 18, 2026

Ilustrasi Warem di wilayah Cirebon Timur.
DaerahSosial

Perkembangan Ekonomi Dibarengi Maraknya Prostitusi di Cirebon Timur, Warga Resah dan Harap Ada Tindakan Nyata

CIREBON – Wilayah Kabupaten Cirebon bagian timur atau Cirebon Timur (Cirtim) dikenal sebagai wilayah yang tengah berkembang pesat, terutama dalam sektor ekonomi. Kawasan ini menjadi magnet baru bagi para investor yang melihat potensi besar dalam pembangunan industri dan infrastruktur. Namun, di balik geliat pertumbuhan ekonomi tersebut, muncul sisi gelap yang mengkhawatirkan: praktik prostitusi yang kian marak, baik secara online maupun offline.

Beberapa titik di wilayah Cirebon Timur mulai disorot karena diduga menjadi tempat beroperasinya praktik prostitusi terselubung. Selain melalui aplikasi pertemanan daring, praktik prostitusi konvensional juga masih ditemukan, khususnya di wilayah perbatasan antara Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

AN, seorang warga Kecamatan Pabuaran, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut. Ia mengaku sering melintas di jalur Ciledug – Ketanggungan dan melihat langsung keberadaan sejumlah wanita malam yang mangkal di kios-kios atau warung remang-remang (warem) di sepanjang jalan perbatasan dua kabupaten itu.

“Saya miris ketika melihat wilayah sendiri (Cirebon Timur) masih banyak hal-hal seperti itu. Dulunya kan dekat pertigaan Ciledug, mungkin sekarang pindah,” kata AN saat ditemui Jumat (11/7/2025) malam, ketika sedang nongkrong di salah satu warung kopi di wilayah Ciledug.

Menurut AN, keberadaan praktik prostitusi tersebut bisa jadi merupakan imbas dari tekanan ekonomi. Ia menilai, beberapa pelaku kemungkinan tidak memiliki banyak pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Iya, mungkin karena tuntutan ekonomi, lalu mereka pilih jalan tersebut yang menurut mereka jalan tercepat untuk mendapatkan penghasilan dengan cepat,” tambahnya dengan nada prihatin.

Tak hanya itu, AN juga menyinggung soal prostitusi online yang menurutnya mulai mengakar di tengah masyarakat Cirebon Timur. Ia sempat mencoba mengunduh aplikasi pertemanan yang memiliki fitur pencarian pengguna di sekitar. Hasilnya membuatnya terkejut.

“Saya kaget, pernah melihat di sebuah aplikasi, ternyata banyak juga di wilayah Cirebon Timur. Di penginapan, kostan, bahkan menyasar komplek perumahan,” jelasnya.

Fenomena ini tentu menjadi ironi di tengah upaya pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Di satu sisi, kemajuan infrastruktur dan arus investasi mulai terlihat jelas. Namun di sisi lain, nilai-nilai sosial dan moral masyarakat mulai menghadapi tantangan berat.

AN berharap ada upaya nyata dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk penertiban maupun pembinaan terhadap para pelaku yang terlibat dalam praktik prostitusi.

“Saya berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk menangani masalah ini,” ujarnya, sambil menyeruput secangkir kopi hitam yang mulai dingin karena terlalu lama diabaikan.

Isu ini bukan hanya menyangkut aspek moral semata, tetapi juga berkelindan dengan persoalan sosial, ekonomi, dan keamanan. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dinilai perlu turun tangan untuk melakukan pendataan, pembinaan, dan penegakan aturan secara tegas namun manusiawi.

Pemerhati sosial dan tokoh masyarakat setempat juga didorong untuk turut ambil bagian dalam menyuarakan keprihatinan serta mencari solusi bersama. Ke depan, Cirebon Timur bukan hanya dituntut menjadi kawasan ekonomi yang maju, tetapi juga harus menjadi tempat yang aman, sehat, dan bermartabat bagi seluruh warganya.

 

4 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *