Latucip Band Hibur Tamu Menteri, Lapas Cipinang Tunjukkan Wajah Humanis Pemasyarakatan
INAPOS, JAKARTA.- Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang dalam menjalankan pembinaan yang humanis kembali dibuktikan melalui penampilan memukau kelompok musik Warga Binaan, Latucip Band, di hadapan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya.
Penampilan ini berlangsung di area Gazebo Lapas Cipinang dalam agenda Rapat Lanjutan Pembahasan Ruislag Aset Komplek UPT Pemasyarakatan Cipinang dan Salemba.
Latucip Band merupakan bagian dari program pembinaan berbasis seni yang digagas Lapas Cipinang untuk mendukung proses rehabilitasi sosial para Warga Binaan.
Melalui musik, mereka tidak hanya menyalurkan bakat dan kreativitas, tetapi juga membangun rasa percaya diri, disiplin, dan tanggung jawab sebagai bekal untuk reintegrasi ke masyarakat.
“Kami percaya bahwa seni, termasuk musik, bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga medium pembinaan yang kuat. Melalui Latucip Band, para Warga Binaan tidak hanya belajar berkarya, tapi juga belajar bekerja sama, berdisiplin, dan memiliki tujuan baru dalam hidup mereka,” ujar Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo pada Rabu (14/5/25).
Penampilan tersebut disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat tinggi seperti Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Kepala Badan Pusat Statistik, serta jajaran Pimpinan Tinggi Kementerian Imipas.
Suasana santai dan penuh kekeluargaan terasa kuat di Gazebo Lapas Cipinang yang dirancang sebagai ruang interaksi positif antara Warga Binaan dan lingkungan sosial.
Menteri Imipas, Agus Andrianto, memberikan apresiasi atas penampilan Latucip Band dan menyatakan kekagumannya terhadap program pembinaan berbasis seni yang dijalankan Lapas Cipinang.
“Musik seperti ini adalah bagian dari pembinaan yang menyentuh sisi emosional dan sosial Warga Binaan. Ini adalah contoh nyata bagaimana Pemasyarakatan bisa lebih bermakna. Bukan sekadar pengamanan, tetapi juga pemberdayaan,” ungkapnya.
Senada dengan Agus, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa kegiatan seni memiliki peran besar dalam mendukung kesejahteraan psikologis Warga Binaan. Menurutnya, pendekatan berbasis seni seperti ini membentuk karakter dan kesiapan mental mereka dalam menjalani kehidupan setelah bebas.
“Para Warga Binaan yang aktif dalam kegiatan seni lebih siap menjalani kehidupan sosial setelah bebas karena telah dibekali keterampilan, kepercayaan diri, dan jiwa positif,” ujarnya.
Kehadiran Latucip Band serta ruang interaksi seperti Gazebo menjadi simbol dari arah pembinaan yang semakin inklusif dan humanis di Lapas Cipinang. Ini sejalan dengan visi Pemasyarakatan modern yang menempatkan Warga Binaan sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek hukuman.
Dengan pembinaan berbasis seni, Lapas Cipinang membuktikan bahwa proses pemasyarakatan dapat menjadi sarana pembentukan karakter, pemberdayaan, serta jembatan untuk kembali menyatu dengan masyarakat secara bermartabat.
Reporter: Zaenal
Editor: Redaksi Inapos
