Bupati Nina Agustina Berjuang Pulangkan Robi’in, Mantan Anggota DPRD yang Disiksa di Perbatasan Thailand-Myanmar
INAPOS, INDRAMAYU.- Bupati Indramayu, Hj. Nina Agustina, terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai institusi tingkat pusat untuk memulangkan salah satu warganya, Robi’in, yang menjadi korban penyiksaan di tempat kerjanya di perbatasan Thailand-Myanmar.
Robi’in, yang diketahui merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Indramayu periode 2014-2019 dari Partai NasDem, terjebak dalam kerja paksa sebagai pelaku penipuan online di wilayah konflik bersenjata Myanmar sejak September 2023.
“Kami terus memantau perkembangan dan menjalin komunikasi dengan Mabes Polri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja, BP2MI, Polda Jawa Barat, dan semua pihak terkait agar Robi’in segera bisa kembali ke tanah air,” ujar Nina Agustina, Sabtu (18/1/25).
Viralnya Video Permintaan Pertolongan
Kasus ini mencuat setelah viralnya sebuah video yang menunjukkan empat warga negara Indonesia (WNI) di Myanmar memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera dipulangkan. Salah satu dari mereka adalah Robi’in.
Yuli Yasmi, istri Robi’in, mengonfirmasi bahwa suaminya berada dalam video tersebut. Ia mengungkapkan bahwa suaminya terpaksa bekerja sebagai scammer dalam praktik penipuan online.
“Dia dipaksa melakukan kerja paksa. Kalau sampai perusahaan tahu soal video itu, risikonya sangat besar,” ungkap Yuli dengan nada khawatir.
Meski telah dilaporkan ke pemerintah, lokasi Robi’in yang berada di wilayah konflik menyulitkan upaya evakuasi. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon telah memberikan arahan agar Robi’in menghubungi hotline resmi dan melengkapi dokumen seperti paspor.
Namun, hingga kini, belum ada langkah konkret untuk menyelamatkan para korban.
Yuli berharap pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. “Kami hanya ingin dia pulang dengan selamat,” ujar Yuli penuh harap.
Bupati Nina Agustina menegaskan komitmennya untuk terus berupaya memulangkan Robi’in meski menghadapi banyak tantangan.
“Kami tidak akan berhenti sampai Robi’in kembali ke keluarganya di Indramayu. Segala cara akan kami tempuh,” tegas Nina.
Kasus ini menjadi perhatian publik dan menggugah kepedulian terhadap perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, terutama di wilayah konflik. Pemerintah diharapkan segera menemukan solusi terbaik untuk memulangkan Robi’in dan tiga WNI lainnya. (Kris)
