Kamis, April 16, 2026

Kapolres Cirebon Kota AKBP Eko Iskandar saat memberikan keterangan pers. Foto: Kris
HukumDaerah

Galian C di Argasunya Kembali Beroperasi, Kapolres Cirebon Kota: Kami Utamakan Solusi dan Pembinaan Masyarakat

INAPOS, KOTA CIREBON.- Aktivitas galian C di wilayah Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, kembali terdeteksi beroperasi meskipun Pemerintah Kota Cirebon telah menetapkan larangan terhadap kegiatan tersebut.

Lokasi bekas tambang itu kini kembali dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk mencari nafkah secara mandiri.

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Eko Iskandar, membenarkan adanya aktivitas penambangan yang dilakukan masyarakat di bekas area galian C tersebut.

Menurutnya, kegiatan itu muncul kembali karena faktor ekonomi warga setempat yang memanfaatkan lahan tambang secara individu dengan peralatan sederhana.

“Bekas pertambangan galian C di sana sekarang dimanfaatkan lagi oleh masyarakat setempat untuk mencari nafkah. Kami sudah mendapat informasi tentang hal itu dan langsung menurunkan anggota ke lokasi,” ujar AKBP Eko Iskandar, Jumat (10/10/25).

Ia menjelaskan, pihaknya telah mengambil langkah preventif dengan memberikan imbauan kepada masyarakat serta kembali memasang papan larangan di area tersebut bersama dinas terkait.

Upaya ini dilakukan agar warga menghentikan sementara kegiatan penambangan sambil menunggu solusi jangka panjang dari pemerintah daerah.

“Kami sudah pasang kembali papan larangan yang dulu sempat dicabut. Kami juga terus berkoordinasi dengan Pak Wali Kota untuk mencari solusi terbaik, termasuk kemungkinan alih profesi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari tambang itu,” jelasnya.

Eko menegaskan, langkah hukum bukan menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus ini. Pihaknya lebih mengedepankan pendekatan humanis dan mencari jalan keluar yang tidak merugikan warga.

“Kami ingin menyelesaikan permasalahan ini secara bijak. Upaya hukum akan menjadi langkah terakhir apabila imbauan dan solusi pembinaan tidak dipatuhi,” tegasnya.

Kapolres juga menambahkan bahwa aktivitas tambang tersebut bukan dijalankan oleh perusahaan atau korporasi besar, melainkan oleh warga lokal secara individu dengan alat seadanya.

Oleh karena itu, pendekatan persuasif dianggap lebih tepat agar masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian secara tiba-tiba.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

61 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *