Kagama Cirebon Desak Transparansi Ijazah Jokowi, Anies dan Ganjar Diminta Tidak Diam
INAPOS, KAB CIREBON.- Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mencuat dan menjadi sorotan publik.
Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Cirebon, Heru Subagia, menegaskan bahwa pihaknya tetap bersikap kritis dan mendorong transparansi terkait isu tersebut.
“Kami tetap kritis dan mendorong agar Kagama Cirebon menjadi buldozer transparansi. Apalagi, Pak Jokowi adalah alumni UGM. Sebetulnya niat kami justru ingin membela Pak Jokowi agar bisa membuktikan langsung ke publik bahwa beliau benar-benar alumni UGM,” ujar Heru dalam keterangannya pada Rabu (22/4/25).
Namun demikian, Heru mengaku prihatin terhadap minimnya dukungan dari sesama alumni UGM dalam merespons isu ini. Ia menyebut, ada distorsi kepedulian dari para alumni.
“Saya terus terang saja, kepekaan alumni UGM sendiri ini mengalami distorsi. Mungkin ada yang sudah bosan, mungkin juga tidak peduli, atau bisa jadi karena mereka memiliki afiliasi politik tertentu sehingga menganggap kami sebagai lawan,” ungkapnya.
Heru juga mendesak dua tokoh nasional yang juga merupakan alumni UGM, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, untuk tidak berdiam diri dalam menghadapi polemik ini.
Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden Jokowi sebenarnya telah beberapa kali diklarifikasi oleh pihak UGM dan Istana Kepresidenan. Namun, sebagian kalangan masih meragukannya dan terus menuntut pembuktian yang lebih transparan.
Ahli Forensik Digital, Rismon Sianipar dalam konferensi pers di Sekretariat Kagama Cirebon, Jl Brigjen Dharsono, Kabupaten Cirebon, menegaskan pentingnya keberanian alumni angkatan 80-an untuk bersuara.
“Kalau memang benar, seharusnya tidak perlu rumit. Pak Jokowi tinggal tunjukkan ijazahnya ke publik dan selesai. Tapi karena terus diulur-ulur, polemik ini tidak akan pernah tuntas,” katanya.
Terkait dengan laporan ke Bareskrim Polri yang menyebut empat nama, termasuk dirinya, Rismon menyatakan siap jika dipanggil.
“Saya tidak akan lari. Sepanjang saya berpegang pada prinsip kebenaran ilmiah, saya siap mempertanggungjawabkan analisa saya. Bahkan bisa diuji oleh ahli forensik di Bareskrim,” tegasnya.
Polemik ini menjadi titik kritis dalam dinamika politik dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan dan pejabat negara. Kagama Cirebon pun berharap agar transparansi menjadi langkah utama dalam menyelesaikan persoalan ini secara jernih dan adil.
Reporter : Kris
Editor : Redaksi Inapos
