Jumat, April 17, 2026

Pemilik BT Batik Trusmi, Sally Geovanny. Foto: Dok
Ekonomi dan BisnisDaerah

Kerja Sama Naming Right Dibatalkan, Batik Trusmi Rugi Rp 1 Miliar

INAPOS, KAB CIREBON.- Perusahaan batik ternama asal Cirebon, BT Batik Trusmi, mengungkapkan kekecewaannya atas pembatalan sepihak kerja sama naming rights Stasiun Cirebon dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Pembatalan itu dilakukan secara mendadak, hanya dua hari sebelum peluncuran resmi yang sedianya digelar pada 1 Oktober 2024, bertepatan dengan Hari Batik Nasional.

Pemilik BT Batik Trusmi, Sally Geovanny, menyebut keputusan tersebut sangat mengejutkan dan merugikan pihaknya secara materiil maupun non-materiil, dengan total kerugian mencapai hampir Rp1 miliar.

“Semua sudah siap. Peluncuran dijadwalkan 1 Oktober 2024, bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Tapi dua hari sebelumnya, tanggal 29 September, kami diberitahu kerja sama dibatalkan sepihak oleh direksi PT KAI,” ungkap Sally, Rabu (29/10/25).

Menurut Sally, kerja sama tersebut merupakan inisiatif yang justru datang dari pihak PT KAI pada Mei 2024. Dalam kesepakatan yang ditawarkan, nama stasiun akan menjadi ‘Stasiun Cirebon BT Batik Trusmi’, tanpa mengubah identitas utama Stasiun Cirebon. Kontrak itu direncanakan berjalan selama tiga tahun dengan nilai investasi miliaran rupiah.

Namun, Sally menuturkan, pembatalan mendadak dilakukan dengan alasan adanya peninjauan ulang internal. Di balik alasan itu, ia menduga terdapat tekanan dari beberapa LSM dan ormas yang menolak kerja sama tersebut dan bahkan mengancam akan menggelar demonstrasi.

“Mereka menyebarkan tuduhan tidak masuk akal, seperti kami mengambil alih saham PT KAI. Padahal naming rights itu hal yang lumrah dalam dunia bisnis modern,” tegasnya.

Kerugian Finansial dan Reputasi

Sally mengungkapkan, akibat pembatalan itu, pihaknya menanggung kerugian besar.
“Vendor sudah dibayar, panggung sudah berdiri, bahkan undangan untuk kementerian dan tamu luar kota sudah disebar. Semua biaya itu akhirnya hangus,” keluhnya.

Selain kerugian finansial, ia menyoroti dampak reputasi yang ditimbulkan dari keputusan mendadak tersebut.

“Yang paling menyedihkan adalah sikap tidak profesional. Kami ingin membangun Cirebon, bukan mencari keuntungan pribadi,” ujarnya dengan nada kecewa.

Misi Besar untuk Cirebon

Sejak berdiri pada 2006, BT Batik Trusmi telah berkembang menjadi salah satu sentra batik terbesar di Indonesia. Perusahaan ini memegang rekor MURI sebagai toko batik terluas di Indonesia, mempekerjakan lebih dari 1.300 karyawan, dan bekerja sama dengan 600 pengrajin batik rumahan.

Sally menjelaskan, keterlibatan perusahaannya dalam proyek naming rights tersebut adalah bentuk kontribusi nyata untuk memajukan ekonomi dan pariwisata Cirebon.

“Kalau stasiun punya nama Batik Trusmi, dampaknya luar biasa untuk kota ini mulai dari pengrajin, hotel, sampai UMKM kuliner,” jelasnya.

Ia berharap agar ke depan, kerja sama antara pihak swasta dan BUMN tidak lagi terhambat oleh tekanan eksternal yang tidak berdasar.

“Cirebon punya potensi besar. Kami ingin tetap berkontribusi untuk mengharumkan nama daerah,” pungkas Sally.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

58 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *