Jumat, April 17, 2026

Pimpinan PT EWF Cirebon, Ernest Firman sat memberikan keterangan pers. Foto: Kris
DaerahEkonomi dan Bisnis

Konflik Timur Tengah Picu Fluktuasi Harga Minyak Dunia, Pimpinan EWF Cirebon Sebut Investor Mulai Lirik Sektor Energi

INAPOS, KOTA CIREBON.- Konflik yang masih berkecamuk di kawasan Timur Tengah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, terutama pada pergerakan harga komoditas energi dunia. Salah satu yang paling terdampak adalah harga minyak mentah yang sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Kondisi ini tidak terlepas dari peran strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global diketahui melewati selat tersebut, yang berada di kawasan negara-negara yang saat ini tengah dilanda konflik.

Akibat situasi tersebut, harga minyak dunia sempat menyentuh kisaran 120 dolar Amerika Serikat per barel. Namun dalam beberapa waktu terakhir, harga komoditas energi itu kembali mengalami koreksi dan berada di sekitar 90 dolar per barel.

Pimpinan PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, mengatakan dinamika harga minyak tersebut membuat sektor energi kembali menjadi perhatian para investor global.

“Komoditas emas masih dalam pergerakan yang stabil walaupun di kawasan Timur Tengah sedang berkonflik. Sementara, komoditas minyak mengalami fluktuasi,” kata Ernest Firman, Rabu (11/3/26) malam.

Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memiliki pengaruh langsung terhadap jalur distribusi energi dunia, khususnya minyak mentah, sehingga memicu volatilitas harga di pasar global.

“Ketegangan di Timur Tengah ini lebih banyak berpengaruh pada komoditas minyak karena yang terdampak langsung adalah jalur transportasi energi. Untuk emas sendiri dampaknya tidak terlalu besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun relatif stabil, komoditas emas tetap memiliki potensi peningkatan permintaan pada kondisi tertentu, terutama ketika investor mencari instrumen investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Emas umumnya mengalami peningkatan permintaan hanya pada kondisi tertentu ketika investor mengalihkan likuiditas dari uang tunai menjadi aset yang dinilai lebih aman,” pungkasnya.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos

 

51 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *