Jumat, April 17, 2026

Kapolda Jabar Irjen Pol. Rudi Setiawan saat menunjukkan bukti saat konferensi pers
TNI / POLRIDaerah

Polda Jabar Tegaskan Tidak Ada Polisi Masuk Kampus UNISBA Saat Kericuhan

INAPOS, BANDUNG.- Polda Jawa Barat meluruskan isu yang beredar terkait tuduhan adanya aparat kepolisian masuk ke dalam kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan melakukan penyisiran saat kericuhan terjadi beberapa waktu lalu.

Kapolda Jabar Irjen Pol. Rudi Setiawan menegaskan kabar tersebut tidak benar.
“Tidak ada polisi yang masuk ke dalam kampus, tidak ada sweeping. Yang berada di pintu gerbang adalah kelompok massa, bukan mahasiswa UNISBA,” tegas Rudi Setiawan di Bandung, Selasa (2/9/25).

Rudi menjelaskan, aparat hanya melintas di jalan umum dan tidak pernah masuk ke area kampus. Dalam sebuah rekaman video yang beredar, bahkan terlihat salah satu direktur kepolisian mengingatkan jajarannya agar tidak memasuki kawasan perguruan tinggi tersebut.

Polda Jabar juga telah berkoordinasi dengan pihak UNISBA. Menurut Rudi, pimpinan kampus justru meminta bantuan pengamanan karena kericuhan yang terjadi bukan sepenuhnya melibatkan mahasiswa.

“Kampus justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempersenjatai diri dan melakukan penyerangan terhadap petugas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sweeping di dalam kampus dilakukan oleh keamanan internal UNISBA untuk mengusir pihak-pihak yang memicu kericuhan agar nama baik kampus tidak tercemar.

Dalam patroli skala besar yang digelar, polisi berhasil mengamankan 16 orang pada pukul 00.30 WIB. Dari jumlah tersebut, 10 orang telah teridentifikasi, terdiri dari mahasiswa, satpam, wiraswasta, hingga pengangguran.

Beberapa di antaranya terlibat kasus narkoba dan membawa senjata berbahaya. Salah satunya, MN (23), mahasiswa semester 5, kedapatan membawa ganja dan hasil tes urinnya positif narkoba. Sementara MF (23) terbukti memiliki percakapan terkait transaksi narkoba dan ajakan membuat kericuhan.

Selain itu, polisi juga mengamankan GOP, seorang pengangguran tamatan SMA yang membawa ganja, serta AA (25) asal Bandung yang kedapatan membawa senjata soft gun dengan peluru gotri. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka.

“Senjata gotri ini berbahaya, pada jarak dekat bisa mematikan. Untuk dua tersangka sudah kami proses sesuai hukum, sementara lainnya masih dalam pemeriksaan,” jelas Kapolda.

Rudi memastikan kericuhan tersebut bukan aksi unjuk rasa mahasiswa, melainkan ulah kelompok tertentu yang memang merencanakan kekacauan.

“Kami mohon kerja sama semua pihak, baik universitas maupun instansi terkait. Kami sudah berkoordinasi dengan Gubernur, Kajati, Pangdam, dan Ketua Pengadilan agar Jawa Barat tetap aman,” pungkasnya.

Reporter: Zaenal

Editor: Redaksi Inapos 

 

4 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *