Polemik Akuisisi PSIT Cirebon Mencair, Asep Sholeh dan Aljun Sepakat Satukan Visi Demi Sepak Bola
INAPOS, KOTA CIREBON.- Polemik seputar akuisisi Persatuan Sepakbola Indonesia Tjirebon (PSIT) Cirebon yang melibatkan pengusaha muda asal Kota Cirebon Asep Sholeh Fakhrul Insan dan Direktur PT Puma Aljun Abadi Papap Aljun Hendro akhirnya mulai menemukan titik terang.
Di balik riuhnya perdebatan soal legalitas dan prosedur, terselip satu benang merah yang sama, yakni kecintaan tulus terhadap sepak bola Cirebon dan sekitarnya.
Sebelumnya, proses pengambilalihan PSIT Cirebon oleh Asep Sholeh sempat menuai sorotan tajam. Akuisisi tersebut dinilai sebagian pihak masih bermasalah secara prosedural dan hukum.
Aljun mengaku terkejut, karena dokumen nota kesepahaman (MoU) PSIT Cirebon disebut masih berada di meja notaris PT Puma Aljun Abadi.
Namun suasana memanas itu perlahan mencair dalam sebuah pertemuan penuh nuansa kekeluargaan antara kedua tokoh yang sama-sama dikenal sebagai pecinta sepak bola. Aljun menyebut pertemuan itu sebagai pertemuan “kakak dan adik yang sama-sama gila bola.”
“Kami ini sama-sama mencintai sepak bola untuk Cirebon dan Majalengka. Yang terjadi kemarin itu sebenarnya hanya miskomunikasi dan ketidaktahuan. Kang Asep orang yang luar biasa, punya visi besar. Saya justru senang kalau ada anak muda yang lebih hebat dan peduli dengan PSIT,” ujar Aljun usai pertemuan di salah satu cafe di bilangan Jl. kartini pada Rabu (14/1/26) malam.
Ia menegaskan, jika masih dibutuhkan, dirinya siap turun membantu, apa pun posisi dan perannya. Menurutnya, mengarungi kompetisi sepak bola tidak hanya soal manajemen, tetapi juga soal biaya, kualitas pemain, dan kolaborasi.
“Kalau kita kolaborasi, rasanya akan jauh lebih kuat. Polemik ini muncul karena ada kebutuhan masa lalu yang harus diselesaikan, sehingga terjadi miskomunikasi. Tapi setelah kami bertemu, ternyata kita punya tujuan yang sama,” ungkapnya.
Nada serupa juga disampaikan Asep Sholeh Fakhrul Insan. Bagi Asep, pertemuan itu bukan sekadar membahas konflik, melainkan merajut kembali rasa saling percaya demi masa depan PSIT.
“Pertemuan malam ini adalah pertemuan kakak dan adik yang sama-sama gila bola. Abang Aljun ini guru kami, kakak kami, yang sudah merawat PSIT sampai bisa berprestasi seperti sekarang. Itu tidak boleh kita lupakan, justru harus kita apresiasi,” tutur Asep.
Ia mengakui dirinya masih “seumur jagung” dalam mengelola sepak bola dibandingkan Aljun, namun yakin bahwa dengan menyatukan pengalaman dan semangat, PSIT bisa melangkah lebih jauh.
“Tujuan kita sama: Cirebon dan Majalengka atau lebih luas Ciayumajakuning harus punya sepak bola yang bisa masuk level nasional. Kita ingin PSIT bangkit, maju, dan tidak mundur lagi. Tidak ada yang salah dari kedua belah pihak, hanya misi komunikasi yang perlu kita satukan,” tegasnya.
Reporter: Kris
Editor: Redaksi Inapos
