Sabtu, April 18, 2026

Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo Pada ajang 2nd ASEAN Regional Correctional Conference (ARCC) 2025. Hs/Nal
Hukum

Batik Karya Warga Binaan Lapas Cipinang Tampil di Forum Internasional ASEAN

INAPOS, JAKARTA.- Batik hasil karya warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang kembali membuktikan kualitasnya di kancah internasional.

Pada ajang 2nd ASEAN Regional Correctional Conference (ARCC) 2025 yang berlangsung di Palawan, Filipina, batik dari Lapas Cipinang dikenakan oleh delegasi Indonesia, Minggu (16/2/25).

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian di Lapas Cipinang tidak hanya menciptakan produk berkualitas tinggi, tetapi juga memperkuat citra positif sistem pemasyarakatan Indonesia.

Konferensi ARCC yang digelar pada 14–16 Februari 2025 mempertemukan pemimpin pemasyarakatan dari 10 negara ASEAN serta organisasi internasional dengan tema “Weaving the ASEAN Regional Corrections Identity: Co-creating a Shared Vision of Transformation”.

Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian ini.

“Kehadiran batik karya warga binaan di forum internasional ini menunjukkan bahwa pembinaan di Lapas Cipinang bukan sekadar rehabilitasi, tetapi juga pemberdayaan. Ini adalah bukti nyata bahwa warga binaan memiliki potensi besar dan dapat berkontribusi secara positif,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan, Maulidi Hilal, turut mengapresiasi inisiatif tersebut.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sistem pemasyarakatan Indonesia semakin progresif dan berorientasi pada pemberdayaan. Produk seperti batik ini tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi mereka setelah bebas,” katanya.

Bagi warga binaan, kesempatan ini menjadi penyemangat untuk terus berkarya. Danil Ismanto, salah satu peserta program membatik, mengungkapkan kebanggaannya.

“Saya tidak menyangka bahwa batik yang kami buat bisa dikenakan di acara besar seperti ini. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar dan membuktikan bahwa kami bisa berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Hukum dan HAM, semakin memperkuat program pembinaan berbasis keterampilan dan kewirausahaan di Lapas Cipinang. Batik yang dikenakan dalam ARCC 2025 ini bukan sekadar busana, tetapi simbol transformasi, rehabilitasi, dan harapan.

Ke depan, diharapkan program serupa terus berkembang, memberikan manfaat lebih luas bagi warga binaan, serta semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai pelopor reformasi pemasyarakatan di tingkat internasional. (Nal)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *