Jateng Siap Dukung Swasembada Garam 2027, Produksi Surplus 600 Ribu Ton
INAPOS, SEMARANG.- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam mendukung program swasembada garam nasional 2027.
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 20 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pergaraman Daerah, yang mengatur hilirisasi industri garam dari praproduksi hingga pemasaran.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng, Lilik Harnadi, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah merupakan provinsi penghasil garam terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur.
Sepanjang 2024, produksi garam di Jateng mencapai sekitar 631 ribu ton, jauh melebihi kebutuhan konsumsi dan industri yang hanya sekitar 119 ribu ton per tahun.
“Artinya, kita sudah surplus karena produksi kita mencapai sekitar 600 ribu ton,” ujar Lilik, Senin (24/2/25).
Dengan kondisi tersebut, Pemprov Jateng optimistis mampu berkontribusi dalam pencapaian swasembada garam nasional. Pergub Nomor 20 Tahun 2024 mengatur wilayah-wilayah sentra garam di Pantura dan Pansela Jateng, seperti Kaliori (Rembang), Batangan (Pati), Kedung (Jepara), Wedung (Demak), dan Tanjung (Brebes) di pantai utara.
Sementara itu, sentra garam di pantai selatan meliputi Grabag (Purworejo), Mirit (Kebumen), dan Adipala (Cilacap), serta Grobogan.
Pemprov Jateng menegaskan bahwa produksi garam tidak hanya sebatas tambak, tetapi juga akan dikembangkan hingga proses pengolahan untuk kebutuhan konsumsi dan industri. Pemerintah juga berupaya menjaga kawasan pergaraman agar tidak mengalami alih fungsi lahan.
“Kami ingin memastikan bahwa daerah pergaraman mendapatkan perlindungan ruang agar tetap menjadi sentra produksi garam,” jelas Lilik.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jateng akan melibatkan berbagai instansi terkait. DKP Jateng akan fokus meningkatkan produksi, Dinas Pekerjaan Umum akan menangani infrastruktur pendukung, sedangkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan membantu pemasaran garam lokal. Dengan sistem ini, produksi garam Jateng ditargetkan meningkat minimal 30 persen.
Sejumlah langkah strategis juga telah dilakukan, seperti pemberian bantuan geomembran, pembangunan Gudang Garam Rakyat (GGR), serta pelatihan bagi petambak garam. Beberapa sentra garam juga telah memiliki fasilitas washing plant, seperti di Kaliori (Rembang) dengan kapasitas 7.500 ton/tahun.
Selain itu, perusahaan daerah milik Pemprov Jateng, SPJT, akan membangun washing plant baru yang ditargetkan beroperasi pada Juni 2025.
“Kita siap mendukung program ini, apalagi sudah ada Perpres 126/2022 dan dukungan penuh dari gubernur dalam penataan ruang produksi garam. Harapannya, garam lokal semakin berdaya saing,” pungkas Lilik. (Er)
