Jumat, April 17, 2026

Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PKS, dr. Encep Sugiana. Doc
Politik

Program Pembinaan Siswa di Barak Perlu Kajian Mendalam, dr. Encep: Jangan Sampai Timbulkan Trauma

INAPOS, BANDUNG.- Gagasan pembinaan siswa melalui sistem barak kembali menjadi perbincangan publik.

Program ini dinilai memiliki tujuan mulia dalam membentuk karakter anak yang lebih baik, namun juga memunculkan kekhawatiran akan dampak psikologis bagi para siswa.

Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PKS, dr. Encep Sugiana, menyatakan bahwa pendekatan ini harus dikaji secara menyeluruh sebelum diterapkan secara masif.

Menurutnya, prinsip pembinaan untuk membentuk anak yang berakhlak, disiplin, dan memiliki mindset positif memang sangat penting.

Namun, ia menekankan bahwa prosesnya harus mempertimbangkan potensi dampak negatif.

“Saya setuju dengan pembinaan yang bertujuan membentuk karakter baik, tapi harus dipikirkan juga jangan sampai ada kesan bahwa yang masuk barak itu anak nakal. Itu bisa menimbulkan trauma dan rasa minder setelah mereka selesai menjalani pembinaan,” ujar dr. Encep kepada inapos pada Selasa (6/5/25).

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendekatan yang humanis terhadap siswa dan orang tua agar tidak muncul stigma negatif yang justru memperburuk keadaan.

“Pendekatan terhadap calon anak dan orang tuanya harus benar-benar baik, supaya tidak muncul stigma buruk baik kepada anak maupun keluarganya,” ungkapnya.

Untuk menghindari penerapan yang terburu-buru, dr. Encep menyarankan agar program ini dijalankan terlebih dahulu sebagai pilot project di satu wilayah, seperti yang saat ini tengah berlangsung di Kabupaten Purwakarta.

Ia menilai evaluasi awal sangat penting untuk mengetahui efektivitas program sebelum diperluas.

“Lebih baik diselesaikan dulu pilot project di Purwakarta, kemudian dievaluasi dari berbagai aspek seperti proses, sistem, kebutuhan, hingga anggaran. Dengan begitu, jika nantinya diterapkan secara luas, peluang keberhasilannya lebih tinggi,” jelasnya.

Satu hal yang menurut dr. Encep sangat mendasar adalah jaminan bahwa para siswa yang mengikuti program ini tidak akan tertinggal dari sisi akademik.

Ia khawatir jika proses pembinaan ini justru membuat siswa ketinggalan pelajaran dan mengganggu jenjang pendidikan mereka, khususnya dalam menghadapi seleksi ke perguruan tinggi.

“Jangan sampai mereka kehilangan waktu belajar, apalagi sampai tertinggal secara pendidikan. Mereka tetap harus merasa nyaman dan siap menghadapi proses pendidikan selanjutnya,” pungkasnya.

Reporter: Kris

Editor: Redaksi Inapos 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *