Siswi di Cirebon Diduga Dilecehkan Berkali-kali oleh Teman Sekolah, Keluarga Korban Minta Polisi Usut Tuntas
Siswi di Cirebon Diduga Dilecehkan Berkali-kali oleh Teman Sekolah, Keluarga Korban Minta Polisi Usut Tuntas
INAPOS, CIREBON — Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali mencuat di wilayah Kabupaten Cirebon. Seorang siswi berusia 16 tahun di Kecamatan Dukupuntang, sebut saja Bunga, diduga mengalami kekerasan seksual oleh teman sebayanya sendiri, yang juga masih berstatus pelajar.
Peristiwa ini tak hanya menyisakan trauma bagi korban, tetapi juga memunculkan kekhawatiran keluarga atas lambannya perlindungan dan penanganan kasus. Dugaan kekerasan tersebut disebut berlangsung berulang sejak 2025, dengan pola ancaman yang membuat korban tertekan dan memilih diam.
Keluarga korban, Suhanan, mengungkapkan bahwa persoalan bermula dari dugaan penyebaran foto korban oleh terduga pelaku pada 2025. Situasi kemudian meningkat menjadi ancaman pada Januari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, korban diduga mengalami kekerasan seksual hingga lima kali.
“Kami khawatir kejadian ini bisa menimpa anak lain. Pelaku cukup pandai dalam mengancam,” ujar Suhanan, Senin (20/4/2026).
Kasus ini telah dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Cirebon pada Jumat (17/4/2026). Namun, keluarga menilai masih ada hal yang mengganjal, terutama terkait potensi hilangnya barang bukti.
Keluarga menyebut, terduga pelaku masih sempat menghubungi korban meski proses hukum tengah berjalan. Bahkan, saat ponsel korban berada di tangan penyidik, panggilan dari terduga pelaku disebut sempat diangkat oleh petugas.
Kondisi ini menambah kekhawatiran keluarga, yang mempertanyakan keamanan barang bukti serta keseriusan penanganan kasus.
Tak hanya itu, keluarga juga menyoroti dugaan keberanian pelaku dalam melancarkan ancaman. Terduga pelaku disebut mengaku memiliki latar belakang keluarga dari kalangan aparat penegak hukum, yang diduga memengaruhi rasa percaya dirinya.
Sebelum melapor ke polisi, keluarga sempat mendatangi pihak terduga pelaku agar foto maupun video korban tidak disebarluaskan. Namun, tekanan yang terus berlanjut akhirnya membuat korban berani mengungkapkan kejadian yang dialaminya kepada sang ibu.
Dampaknya, kondisi psikologis korban disebut berubah drastis. Korban menjadi tertutup, sering mengurung diri, dan enggan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
Di sisi lain, keluarga berharap pihak sekolah tetap memberikan ruang bagi korban untuk melanjutkan pendidikan tanpa stigma.
“Kami berharap kasus ini segera ditangani dengan serius agar mendapatkan titik terang dan keadilan,” kata Suhanan.
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi
