Pantura: Jalan Nasional atau Arena Bertaruh Nyawa?, Kisah Maman Mencari Nafkah di Tengah Gelombang Kecemasan
Pantura: Jalan Nasional atau Arena Bertaruh Nyawa?, Kisah Maman Mencari Nafkah di Tengah Gelombang Kecemasan
Inapos.id, Kab. Cirebon — Setiap orang tentu punya jalan hidup masing-masing. Namun bagi sebagian pekerja di Kabupaten Cirebon, jalan hidup itu secara harfiah sangat berkaitan dengan jalan raya yang mereka lintasi setiap hari. Jalan yang tidak mulus, gelap, penuh truk besar, dan dalam beberapa bulan terakhir sering memakan korban jiwa.
Salah satunya adalah Maman (38), warga Desa Kalimukti, Kecamatan Pabedilan, yang setiap hari harus menempuh perjalanan pulang–pergi melewati jalur Pantai Utara (pantura) Cirebon demi mencari nafkah. Rutenya tidak pendek, dan risikonya jauh lebih panjang dari sekadar lelah di perjalanan.
Bagi Maman, perjalanan itu bukan sekadar rutinitas. Ia menyebutnya sebagai “ujian harian”, karena begitu banyak cerita kecelakaan tragis yang berseliweran dari jalur pantura, terutama yang menimpa para pengendara sepeda motor.
“Akhir-akhir ini sering dengar kabar ada motor terlindas mobil besar. Kadang pas mau berangkat kerja itu jadi kepikiran. Apa saya bisa selamat pulang lagi atau tidak,” katanya sambil tersenyum kecil, sebuah senyum yang lebih mirip tameng dari rasa cemas yang sudah terlalu sering ia rasakan.
Di wajahnya terlihat kelelahan yang tertahan, namun juga keteguhan seorang kepala keluarga yang tidak punya pilihan selain tetap menempuh perjalanan yang sama, setiap pagi dan setiap malam.
Perjalanan yang Tidak Sederhana
Rutinitas Maman dimulai pukul lima pagi. Saat sebagian orang masih terlelap, ia sudah menyiapkan motor bebek andalannya, satu-satunya kendaraan yang ia miliki untuk menyambung hidup.
Ia bekerja di sebuah bengkel di wilayah Kecamatan Sumber, yang jaraknya puluhan kilometer dari rumahnya. Tak peduli panas, hujan, atau angin malam, rute itu harus tetap ditempuh.
Dari rumahnya di Kalimukti, ia mengambil jalur ke Pabedilan, lalu terus menuju arah pantura lintasan yang terkenal padat dan penuh kendaraan besar. Dari sana ia melaju melewati Kanci, Rawaurip, Ender, Gebang Ilir–Playangan, lalu belok menuju area Sumber.
Bila pagi masih bisa ditoleransi, maka perjalanan pulanglah yang paling membuatnya waswas.
“Kalau pulang itu biasanya malam. Nah, jalur pantura itu ada banyak titik gelap. Di Kanci, Rawaurip, Ender, Gebang Ilir, sampai Playangan itu gelap banget. Kadang lampu motor saya kalah sama lampu mobil besar, jadi pandangan suka hilang sebentar,” ujarnya.
Bagi pengendara motor, hilang pandangan satu detik saja bisa jadi perbedaan antara selamat dan celaka. Dan Maman merasakan itu hampir setiap hari.
Jalan yang Bergelombang, Nasib yang Ikut Goyang
Selain gelap, Maman mengatakan bahwa kondisi jalan pantura juga menjadi penyebab kecemasan yang tidak kalah besar.
“Jalan bergelombang itu bikin motor kayak goyang-goyang sendiri. Apalagi kalau ngerem mendadak, motor bisa langsung oleng. Kadang saya sampai pegang stang motor kuat-kuat, takut kebanting,” tuturnya.
Ada beberapa titik bergelombang yang ia hafal betul, wilayah Kanci (dekat pintu keluar tol), Desa Bendungan, Gebang Kulon, Gebang Ilir, Wilayah Kecamatan Losari.
Setiap pengendara motor yang melintasi jalur itu pasti tahu bagaimana rasanya menghajar gelombang jalan. Ada guncangan yang mendadak, entakan kecil yang lama-lama melelahkan, dan ketidakpastian kapan roda bisa terpeleset.
Kadang ia membayangkan, bagaimana mungkin jalur pantura urat nadi transportasi Jawa bisa memiliki kondisi yang begitu jauh dari kata ideal?
“Kadang saya suka mikir, kok kondisi jalannya tidak cepat diperbaiki ya. Padahal tiap hari semuanya lewat sini, mobil besar, bus, truk-truk gandeng,” katanya.
Maman pernah nyaris celaka karena gelombang jalan. Suatu malam, saat pulang setelah hujan deras, ia tidak bisa melihat jelas bagian jalan yang rusak. Air hujan menutupi permukaannya sehingga terlihat rata, padahal di bawahnya terdapat gelombang besar.
“Saya kira jalannya datar, ternyata pas masuk, motor langsung jedug. Oleng. Untung tidak ada truk di belakang. Kalau ada, mungkin saya sudah tidak ada sekarang,” ucapnya lirih.
Ia berhenti beberapa menit setelah kejadian itu. Saat memegang helmnya, barulah ia sadar kaca helm dipenuhi cipratan lumpur yang terlontar dari ban mobil yang melintas.
Truk Raksasa dan Rasa Takut yang Tidak Pernah Hilang
Jalur pantura Cirebon ibarat panggung besar bagi berbagai jenis kendaraan. Mulai dari mobil pribadi, bus antar kota, truk gandeng, truk kontainer, hingga trailer raksasa.
Bagi pengendara motor kecil seperti Maman, truk-truk besar itu adalah ancaman yang selalu menghantui.
“Ban mobil besar itu tingginya melebihi motor. Kalau saya jatuh, saya sudah tahu akibatnya. Makanya kalau ada truk lewat dekat saya, saya suka ngerem dan kasih dia jalan dulu,” ujarnya.
Ia sadar betul, bahwa satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya berada di posisi yang tidak diinginkan yaitu tepat di jalur ban besar yang tidak mengenal kompromi.
Setiap kali ada kabar kecelakaan, terutama berita pengendara motor yang terlindas truk, ia merasa seperti mendapat pukulan keras di dada. Karena korban yang diberitakan itu seringkali bukan orang jauh. Bisa tetangganya, kenalannya, atau bahkan orang yang menempuh rute yang sama dengan dirinya.
“Saya pernah dengar kabar, ada pengendara yang jatuh pas di Kanci. Katanya dia nabrak gelombang jalan, terus jatuh ke kanan. Pas banget ada truk besar lewat. Denger begitu saya langsung merinding. Itu jalur saya tiap hari soalnya,” tambahnya.
Beberapa kali, ia bahkan mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain. Namun realitas ekonomi keluarga membuat pilihan itu terasa mustahil dilakukan.
Perjalanan Malam: Pertempuran Melawan Gelap dan Ketakutan
Bila pagi adalah waktu paling aman untuknya, maka malam adalah lawan terbesar.
Penerangan jalan umum (PJU) yang minim di beberapa titik membuat jalur pantura seperti lorong gelap yang siap menyembunyikan berbagai bahaya: lubang jalan, gelombang aspal, genangan air, dan tentu saja kendaraan besar yang melaju cepat.
“Kalau hujan, itu tambah ngeri. Kaca helm kotor karena cipratan ban mobil. Lampu motor mantul ke air, jadi pandangan makin sulit. Rasanya kayak bawa motor dalam kabut tebal,” ucap Maman.
Ia biasanya menepi sebentar jika hujan terlalu deras. Namun menepi pun bukan tanpa risiko. Ada kasus pengendara motor yang diserempet truk saat berhenti di bahu jalan karena kondisi gelap dan jarak pandang terbatas.
Maman tentu tahu cerita itu, dan itu membuatnya semakin berhati-hati. Ia tetap membawa motor pelan-pelan, sambil berharap malam segera berlalu.
Dilema: Antara Nafkah dan Ancaman Nyawa
Walau setiap hari ia digelayuti rasa takut, Maman tidak pernah berniat berhenti bekerja. Ia adalah tulang punggung keluarga. Dua anaknya masih bersekolah, membutuhkan biaya, dan istrinya mengurus rumah.
Jika ia berhenti, ia tidak tahu mau bekerja apa lagi. Tidak semua kantong pekerjaan menyediakan lokasi yang dekat dari rumah.
“Saya kerja di Sumber karena sudah lama di situ. Mau cari kerja dekat rumah susah. Penghasilan juga belum tentu sama,” katanya.
Ia sempat mempertimbangkan kos di dekat tempat kerja, tapi ia tidak tega meninggalkan keluarga setiap hari. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh, bercengkerama dengan mereka setiap pagi dan malam.
“Kalau saya kos, kapan ketemu anak? Saya sudah capek kerja, masa pulang cuma sebulan sekali? Itu bukan pilihan buat saya,” ujarnya.
Akhirnya, ia hanya bisa pasrah, meski di dalam hatinya ada kecemasan yang selalu menumpuk setiap kali menaiki motor dan menyalakan mesin.
Harapan Maman: Jalan yang Mulus dan Lampu Jalan yang Menyala
Meski kondisinya serba sulit, Maman tidak ingin hanya mengeluh. Ia ingin perubahan nyata. Menurutnya, jalan yang mulus dan PJU yang memadai saja sudah bisa menyelamatkan banyak nyawa.
“Cuma butuh jalan yang rata dan lampu jalan nyala. Itu saja sudah cukup bantu kita para pengendara kecil,” katanya.
Ia berharap pemerintah memperhatikan jalur pantura secara berkala, bukan hanya saat menjelang arus mudik.
“Kalau mau jujur, pantura itu dipakai tiap hari sama ribuan orang. Kenapa nunggu mudik dulu baru diperbaiki? Kenapa tidak rutin?” tanya Maman, suaranya mengandung frustrasi yang wajar dimiliki seseorang yang bertahun-tahun melintasi jalan rusak yang sama.
Kisah Kecil dari Ribuan Pengendara
Kisah Maman hanyalah satu dari ribuan kisah serupa di jalur pantura Cirebon. Setiap pengendara motor yang melintasi rute itu membawa kecemasan yang sama takut jatuh, takut tertabrak, takut tidak pulang.
Di balik setiap helm, ada kepala keluarga yang menanggung harapan keluarganya. Di balik setiap motor kecil, ada perjalanan penuh risiko yang jarang dilihat oleh para pengguna kendaraan besar.
Pantura selalu sibuk, selalu padat, selalu bising. Namun di antara deru mesin truk dan klakson bus, ada suara-suaranya yang jarang terdengar: suara kekhawatiran para pengendara kecil yang hanya ingin sampai rumah dengan selamat.
Sampai Kapan?
Pertanyaan itu menggema di benak Maman setiap hari: sampai kapan perjalanan ini harus serisky ini?
Ia bukan meminta jalan yang mewah. Ia hanya ingin pulang tanpa rasa takut berlebihan. Ia ingin jalur pantura menjadi tempat yang aman untuk semua pengguna jalan, bukan hanya mereka yang berkendara dengan mesin besar.
“Saya cuma pengen pulang dan lihat anak-anak tidur. Itu saja,” katanya menutup cerita.
Di tengah gelapnya malam pantura, Maman tetap melaju. Dengan motor sederhana, keberanian yang dipaksa tumbuh, dan doa yang selalu ia panjatkan setiap kali menyalakan mesin.
Sebab baginya, perjalanan ini bukan hanya rute harian. Ini adalah perjuangan untuk hidup, demi keluarga, demi masa depan, dan demi harapan bahwa suatu hari nanti, jalan pantura Cirebon bukan lagi jalur yang menakutkan.
Reporter : Didin
Editor : Tim Redaksi
